KOTA TANGERANG (Haluan Banten) – Menjadi seorang perawat merupakan tujuan hidup yang dipilih Akhsanti saat sejak lama. Wanita yang menyelesaikan pendidikan terakhir di Politeknik Kesehatan Banten Rumah Sakit Dr Sitanala ini sekarang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang ada di Kota Tangerang.

Kesehariannya ia bertugas sebagai perawat pelaksana di rumah sakit tersebut. Dalam mengemban tugasnya tidak sedikit peristiwa perih dirasakan wanita ber jilbab ini.

Kata dia di rumah sakit dirinya banyak melihat raut masam dari pasien maupun keluarga. Bahkan Isan tangis dan jeritan sudah tidak asing dirasakannya.

Menurut wanita yang akrab disapa Ita ini dapat menolong orang lain merupakan bagian terpenting dalam hidupnya. Jadi tak heran jika ia memutuskan untuk menjadi salah satu orang yang dapat menyumbangkan keahliannya di bidang kesehatan.

Kata dia menjadi wanita tidak harus selalu lemah. Kartini, sebut Ita, harus menjadi pedoman bagi wanita dalam kehidupan.

“Sejak kuliah saya memang mengambil Teknis Kesehatan. Bagi saya, bisa berbuat baik untuk banyak orang merupakan pencapaian terbaik manusia saat hidup,” ucap dia Minggu (21/3).

Seraya bercerita, Akhsanti juga mengaku bukan hanya menjadi seorang perawat. Tetapi dirinya juga terjun sebagai Volunteer untuk misi kemanusiaan di Palang Merah Indonesia Kota Tangerang.

“Wanita tidak boleh menganggap dirinya lemah. Ibu Kartini adalah sosok tangguh untuk seorang wanita,” jelas dia.

Kata dia, pengalaman pertamanya menjadi seorang volunteer yakni saat terjadi bencana di Lombok Nusa Tenggara Barat. Kala itu dia mengaku resah dan juga sedih melihat bencana yang meluluhkan tanah Lombok.

Bagaimana tidak, Isak tangis banyak orang terus terlihat dari berbagai media yang nenyiarkan. Bahkan ratusan jiwa melayang diterjang amukan laut yang murka.

Tidak pikir panjang saat itu ia mencoba meminta restu dari kedua orang tuanya untuk dapat terbang ke Tanah Lombok.

“Saat itu saya lihat di TV kalau disana masih sangat membutuhkan tenaga medis. Ya saya minta ijin ke orang tua saya tapi tidak di ijinkan,” kata Ita.

Tetapi seakan tidak ingin menyerah, Ita kembali meyakinkan orangtuanya agar memberi izin. Dengan rayuan dan keyakinan yang dimiliki wanita yang memiliki dua adik ini orangtuanya tak dapat berbuat banyak.

“Alhamdulillah di izinkan karena memang saya punya keahlian di bidang itu. Saya hanya bilang ke mereka tidak usah khawatir,” ucapnya.

Di bulan Agustus 2018 itu ia langsung mengemas bekal untuk terbang langsung ke lokasi gempa. Bersama dua orang temannya, ia mewakili Palang Merah Kota Tangerang untuk misi kemanusiaan.

Setibanya di Lombok, kata Ita, dirinya sempat cemas melihat kondisi yang sudah hancur berantakan. Tetapi, dengan tekat dan juga rasa sosial ia memutuskan untuk tetap kuat dan membantu banyak orang.

“Kami singgah di posko yang berada persis di bibir pantai. Takut, cemas, dan resah memang ada tetapi ya inilah yang memang harus kita lakukan. Karena mereka semua pasti sangat membutuhkan pertolongan,” ucapnya.

Wanita dengan senyum manis itu memutuskan singgah selama 10 hari di lokasi bencana. Saat itu tidak sedikit masyarakat yang mendapat sentuhan tangannya untuk pulih.

“Kebanyakan dari mereka patah tulang dan luka. Banyak juga yang tidak selamat, ” ucapnya.

Usai misi kemanusiaan itu ia kembali terbang ke pelukan hangat keluarga. Rutinitasnya menjadi seorang perawat pun tak dapat ia tinggalkan.

Kata dia, dapat berada di sekitar orang yang membutuhkan dirinya merupakan anugerah terindah yang diberikan tuhan.

“Masalah nasip dan juga ajal manusia sudah ada yang atur ko. Jadi tidak perlu takut jika memang kita harus berada di lokasi bencana untuk merjngankan beban mereka yang membutuhkan,” tukasnya.

Tidak hanya disitu, pada Satelit News Akhsanti juga bilang ikut saat misi kemanusiaan di Banten. Saat ini dirinya sudah singgah sebagai Relawan PMI selama 3 tahun dan tetap menjalankan kehidupannya sebagai perawat. (*)