
Pelaksanaan work from home sudah hampir 6 minggu berjalan bagi hampir seluruh karyawan dan tak terkecuali guru yang semula hanya berlaku di Jakarta, namun sekarang ampir di seluruh pelosok negeri tercinta . Apa yang Anda rasakan selama bekerja di rumah? Ada yang happy karena bisa berkumpul dengan keluarga, ada yang bosan karena terbiasa dengan rutinitas.
Buat saya sebagai seorang pendidik di sekolah negeri, saya merasa wfh ini membawa dampak positif dan negatif.
Dampak positif apa saja yang sara rasakan sebagai pendidik?
1. Saya punya banyak waktu di rumah dan menghabiskan waktu bersama anak cucu.
Rutinitas saya setiap hari berangkat dari rumah pukul 6.30 pagi dan pulang pukul 16 sore. Kebetulan jam kerja di sekolah saya adalah mulai jam 07.00 pagi sampai jam 15.30 sore.
Hampir setiap hari saya melakukan rutinitas tersebut sehingga bisa dikatakan tidak ada waktu buat bermain dan bercanda bersama anak cucu apalagi berjemur di bawah matahari pagi dan tidak melihat matahari tenggelam. Selama ini, waktu saya cukup banyak terkuras di ruangan kelas, berhubungan dengan administrasi sekolah, memperhatikan sikap dan prilaku anak murid yang kadang membutuhkan perhatian ekstra keras, karena kita menyadari tupoksi guru adalah mengjar, mendidik dan melatih.
Dengan adanya wfh, saya belajar menikmati untuk beristirahat dan mencintai diri sendiri dan keluarga. Tentunya juga saya bisa menikmati berjemur di pagi hari untuk meningkatkan imunitas tubuh.
2. Menulis dan membuka file-file buku harian .
Tiap hari saya menghadapi laptop sambil diiringi qosidah libanon atau lagu sedih hindi, tulisan-tu;isan baik memenuhi permintaan media cetak maupun media online, atau sekadar nulis untuk branda medsoso yang aku punya sebagai bahan komunikasi dengan masyarakat luas.
Dengan adanya wfh, saya lebih fokus nulis dan sekali-kali aku menjawab pertanyaan siswa saat sesi online. Lumayanlah, mengurangi rada bete dan jenuh.
3. Zero ongkos alias tidak keluar ongkos buat kerja.
Berkat Wfh, tidak ada pengeluaran untuk ongkos perjalanan kerja bagi saya dan ongkos kuliah bagi dua putri cantiku karena tidak kemana-mana. Biasanya saya mengisi bensin 600 ribu seminggu. Artinya dalam sebulan saya mengeluarkan 2.400.000 hanya untuk ongkos perjalanan kerja . Sekarang pengeluaran ini dialihkan untuk pengeluaran-pengeluaran lain yang lumayan banyak juga selama bekerja di rumah.
4. Stress menghadapi persoalan dengan murid berkurang.
Tiap guru menghadapi tantangan yang berbeda-beda sesuai dengan usia anak yang mereka ajar. Untuk guru lebih banyak menghadapi masalah dengan manajemen kelas. Terkadang guru stres sendiri menghadapi anak-anak yang tidak bisa diam, berisik, atau malas belajar. Tetapi untuk guru SMA/SMK, biasanya masalah yang dihadapi adalah masalah karakter anak yang mulai akil balig, dan kita sebagai guru bahasa yang digunakanpun nyerempet-nyerepet dunia anak, contoh istilah bucin, salah satunya.
Dengan adanya Wfh, guru bisa sedikit bernafas lega karena tidak setiap hari harus bertatap muka dan menghadapi berbagai macam karakter anak dan tantangannya.
5. Gaptek jadi Gotek
Hampir banyak guru menghadapi masalah yang sama dengan teknologi. Kebanyakan guru seusiaku gaptek alias gagap teknologi karena terbiasa bekerja dengan buku, kertas, dan papan tulis. Jarang sekali dengan teknologi. Bersyukur dengan adanya wfh ini, saya terpaksa dan dipaksa belajar googleclassroom untuk menghadapi murid.
Namun inilah kenyataannya. Bagi saya sebagai seorang pendidik, saya sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk belajar dan menjadi gotek (jago teknologi). Yang diawali dengan mengikuti program keahlian ganda sehingga menggunakan google classroom untuk memberi tugas kepada murid.
Tetapi sekarang semua guru wajib belajar menggunakan website ini untuk proses belajar mengajar.
Di sisi lain, saya turut merasakan penderitaan orangtua murid yang harus mengajar anaknya di rumah, di luar tugas rumah tangga yang harus mereka lakukan. Di samping itu, mereka masih harus punya biaya tambahan untuk alat komunikasi dan paketnya yang tidak murah.
Mungkin banyak orangtua murid yang komplen terhadap sekolah karena tidak siap menghadapi perubahan total ini. Bila menyikapi secara bijaksana, tidak ada satu orang maupun lembaga yang menginginkan hal ini terjadi. Semua merasa dirugikan dengan adanya wabah covid 19.
Selain implikasi positif dengan adanya wfh sebagai akibat wabah covid 19 juga ada sisi negatifnya antara lain ;
1. Konsentrasi tidak fokus.
Guru dengan tugas pokok dan fungsinya yang melekat yakni mengajar, mendidik dan melatih Seperti akan menghadapi kendala, karena ada tugas lain sebagai tugas profesiona dalam mengembangkan kepribadian, dan rumah bukan tempat yang tepat karena rumah identik dengan tempatnya untuk keluarga.
Ketika aturan Wfh diberlakukan, tidak sepenuhnya membawa dampak yang menguntungkan buat guru. Guru harus membagi waktu dengan keluarga, ada banyak distraksi di rumah sehingga sulit berkonsentrasi untuk bekerja.
2. Biaya di rumah membengkak.
Tidak selamanya Wfh menguntungkan bagi kami para pendidik. Ada banyak pengeluaran yang tadinya hanya sedikit sekarang jadi membengkak. Pengeluaran apa saja?
Dengan seringnya makan bersama, otomatis ada semacam reques makanan dan minuman dan bisa ditebak anak cucu pastinya inginnya yang terbaik dan terenak, atau yang selama ini tak terjangkau oleh uang jajannya ini kesempatan, haha.
Wifi rumah otomatis karena selama ini jarang di rumah sekarang semua memanfaatkannya dan tentunya rekening listrik mengembang dan membengkak.
3. Mata perih dan punggung pegal
Untuk membuat tugas sampai memeriksa hasil kerja murid dengan menggunakan laptop membuat mata saya perih dan kering. Tugas yang saya periksa bukan hanya untuk satu kelas, tetapi lebih, lalu dikalikan dengan jumlah siswa.
Belum lagi saya harus membalas chat pribadi orangtua murid yang terkadang menanyakan hal yang sama berulang-ulang, sungguh tidak mudah. Mata saya non stop melihat layar hp dan juga layar laptop. Kadang saya lupa mengistirahatkan mata supaya tidak sakit. Seandainya saya disuruh memilih work from home atau bekerja di kelas, saya memilih yang ke dua.
Saya memilih bekerja di kelas, di komunitas saya sesungguhnya. Sangatlah salah jika ada yang berpikir bahwa tugas guru jadi ringan, makan gaji buta dengan hanya memberi tugas kepada murid selama masa pandemi ini. Sungguh, saya sangat tersinggung sebagai guru.
Saya bekerja sebagai guru karena panggilan jiwa, ada rasa tanggungjawab yang tidak bisa digantikan dengan apapun.
Saya merasa bertanggung jawab untuk mendidik murid secara tatap muka di kelas.
Dengan keadaan ini, semua mata bisa terbuka bahwa teknologi tidak bisa menggantikan tugas guru di kelas. Ada chemistry yang terbangun antara guru dan murid ketika berada real di kelas. Ada rasa percaya antara murid dan guru. Ketika rasa percaya terbangun, maka setiap ilmu pengetahuan yang diberikan akan mudah dipahami oleh murid di kelas.
Di kondisi sekarang ini, guru dan murid harus terpisahkan dan hanya dipertemukan lewat layar laptop. Tetapi ingatlah, ini hanya sementara. Semoga badai ini cepat berlalu dan masing-masing bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.
Dan tenetunya pertemuan kita melalui dunia maya kering, kerontang tanpa dibumbui emosi, bagaimana nimatnya telinga ketika mendengar murid menjawab pertanyaan dengan gamblang, bagaimana tidak berbunga-bunganya hati kita ketika melihat senyum simpul dari murid ketika menyaksikan kehebatan gurunya dalam mengelaborasi pengetahuan, ada kekaguman dan kebanggaan murid terhadap kita lewat sorot mata dan senyum terukir dibibirnya, subhanallah, kami merindukan suasana itu.


