SERANG,(Haluan banten) – SMK 1 Tanjung Teja  menetapkan dua  model pelaksanaan kegiatan pembelajaran, yaitu Pembelajaran Dari Rumah (BDR) untuk daerah-daerah di bertanda zona merah, orange dan kuning, dan Pembelajaran Tatap Muka (BTM) bagi daerah-daerah di zona hijau dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Dr Dedeh Nurhayati M.pd ketua program pembelajaran mengharuskan dengan penyesuaian kondisi sekarang ini terutama perihal ketercapaian kurikulum. “Sekolah di tuntut para guru untuk mampu menjaga stamina fisik dan energi mental anak didik, namun juga mampu menjaga kualitas pembelajaran tetap signifikan di tengah kondisi ini, sekaligus menyiasati agar tujuan pembelajaran dapat optimal tersampaikan dan terserap oleh peserta didik,” tutur Nurhayati saat acara sosialisasi program pembelajaran di SMK 1 Tanjung Teja, Senin (31/8/20)

Masih kata Dedeh Nurhayati bahwa dalam setuasi Pandemi Covid-19 ini tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pembatasan ruang interaksi fisik  (physical distancing) yang berlangsung selama masa pandemi memberi tekanan mental atau psikososial terhadap anak-anak. “Pada umumnya mereka mengeluhkan beberapa hal : anak-anak sudah pada tarap jenuh berada di rumah yang cukup lama, sementara fasilitas koneksi jaringan internet tidak memadai, dan  penguasaan pembelajaran yang membutuhkan bimbingan terus menerus,” imbuhnya

Menurutnya, dari aspek pembelajaran daring pun  tentu memerlukan media yang harus dipenuhi dari  sisi penguasaan aplikasi-aplikasi seperti Zoom,  Google Meet, atau aplikasi-aplikasilainya

“Sebab itu saya berpendapat bahwa indikator pencapaian kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran pun harus disederhanakan serta dihubungkan dalam konteks bertahan hidup di tengah pandemi virus korona ini. Kurikulum harus dimodifikasi, disesuaikan dengan kondisi kedaruratan bencana pandemi ini. Dan menurut saya ini pun sangat mendesak untuk diberlakukan di daerah-daerah bertanda zonasi merah, orange dan kuning tadi,” paparnya

Dedeh juga menyelaskan  diistilahkan masa new normal, tentunya pula tidak bisa selazim di masa normal. “Setidaknya sampai satu semester kita harus menyesuaikan program semester,” tuturnya

“Rencana pelaksanaan pembelajaran,  dan alokasi waktu tiap materi pembelajaran,   kegiatan belajar mengajar, indikator pencapaian kompetensi baik itu untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar point, rumah belajar, quipper school dan Google Classroom. Untuk penilaian bisa dilakukan dengan quiziz, kahoot atau anak mengumpulkan di dalam Google Classroom, anak yang mengerjakan dan mengumpulkan harus diapresiasi tinggi, bahkan anak yang berkomentar di forum pun harus diberi nilai, karena anak tersebut aktif, “paparnya lagi

Menurut Nurhayati, penilaian anak pun harus melihat ke arah pendidikan karakter dan kecakapan hidup. Bukan hanya hasil nilai dari ulangan dan tugas saja. Dalam penjadwalan waktu belajar pun di rubah. Contoh mata pelajaran IPA hanya terjadwal tiap hari Rabu dengan alokasi waktu 100 menit, secara daring . Jadi harus dimanfaatkan semaksimal mungkin,” pungkasnya(Nasri)