Mensiasati PBM di SMA PGRI Pandeglang Pada Masa Pandemi Covid-19

Pandeglang, Haluan Banten -SMA PGRI pandeglang melaksanakan pembelajaran dalam setuasi covid 19 dengan menerapkan dua model pelaksanaan kegiatan pembelajaran, yaitu Pembelajaran Dari Rumah (BDR) untuk daerah-daerah di bertanda zona merah, orange dan kuning, dan Pembelajaran Tatap Muka (BTM) dengan pola klaster bagi daerah-daerah di zona hijau dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang telah jadi acuan. Tutur Azhimattinur pratina Gayathri Mpd

Dengan cara mensiasati kondisi sekarang ini terutama perihal ketercapaian kurikulum. “Sekolah di tuntut para guru untuk mampu menjaga stamina fisik dan energi mental anak didik, namun juga mampu menjaga kualitas pembelajaran tetap terjaga di tengah kondisi ini, sekaligus menyiasati agar tujuan pembelajaran dapat optimal tersampaikan dan terserap oleh peserta didik.pungkasnya

Lebih lanjut ibu Azhimattinur berkata bahwa dalam setuasi Pandemi Covid-19 ini tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Pembatasan ruang interaksi fisik (physical distancing) yang berlangsung selama masa pandemi memberi tekanan mental atau psikososial terhadap anak-anak. “Pada umumnya mereka mengeluhkan beberapa hal : anak-anak sudah pada tarap jenuh berada di rumah yang cukup lama, sementara fasilitas koneksi jaringan internet tidak memadai, dan penguasaan pembelajaran yang membutuhkan bimbingan terus menerus,” imbuhnya

Menurutnya, dari aspek pembelajaran daring pun tentu memerlukan media yang harus dipenuhi dari sisi penguasaan aplikasi-aplikasi seperti Zoom, Google Meet, atau aplikasi-aplikasilainya

“Sebab itu saya berpendapat bahwa indikator pencapaian kompetensi dasar serta tujuan pembelajaran pun harus disederhanakan serta dihubungkan dalam konteks bertahan hidup di tengah pandemi Covid-19 ini. Kurikulum harus dimodifikasi, disesuaikan dengan kondisi kedaruratan bencana pandemi ini. Dan menurut saya ini pun sangat mendesak untuk diberlakukan di daerah-daerah bertanda zonasi merah, orange dan kuning tadi,” paparnya

Ibu Azhimattinur yang kerap disapa bu Nurul juga menyelaskan diistilahkan masa new normal, tentunya pula tidak bisa selazim di masa normal. “Setidaknya sampai satu semester kita harus menyesuaikan program semester,” tuturnya

“Rencana pelaksanaan pembelajaran, dan alokasi waktu tiap materi pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, indikator pencapaian kompetensi baik itu untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar point, rumah belajar, quipper school dan Google Classroom. Untuk penilaian bisa dilakukan dengan quiziz, kahoot atau anak mengumpulkan di dalam Google Classroom, anak yang mengerjakan dan mengumpulkan harus diapresiasi tinggi, bahkan anak yang berkomentar di forum pun harus diberi nilai, karena anak tersebut aktif, “paparnya lagi

Penilaian anak pun harus melihat ke arah pendidikan karakter dan kecakapan hidup. Bukan hanya hasil nilai dari ulangan dan tugas saja. Dalam penjadwalan waktu belajar pun di rubah. Dan intinya belajar tetap berjalan apapun situasinya diciptakan belajar yang menyenangkan, sebagaimana yang pernah dikatakan Guru BESAR unindra Prof Dr. Sumaryoto ‘ dengan siapapun kita bicara itu adalah gurku dan di manapun kita berada itu adalah sekolahku ‘ begitu pungkas bu Azhi mengakhiri pembicaraan dengan reporter awak media ini. (Gayathri/Nsr)

Jasa Pembuatan Website

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan