SERANG, (Haluanbanten.co.id) – Sebagai bentuk tanggungjawab membangun kedewasaan dalam pemanfaatan media, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Banten melakukan literasi media setidaknya di 10 (sepuluh) titik di Kabupaten/Kota di Provinsi Banten. Kegiatan ini dilaksanakan dengan dukungan APBD Perubahan Provinsi Banten, Oktober – Desember 2022.

Tema yang diusung dalam kegiatan literasi media ini adalah “Membangun Kecerdasan Penonton dan Pemirsa Lembaga Penyiaran di Era Digital”. Kegiatan literasi media ini juga melibatkan DPRD Banten khususnya Komisi 1, OPD Pemerintah Provinsi Banten, Praktisi Penyiaran serta Akademisi dari berbagai kampus, seperti Untirta, UIN SMH Banten, UMN Tangerang, UNMA Pandeglang dan Universitas Bina Bangsa.

“Dalam rangka memberikan pengetahuan kepada masyarakat di Provinsi Banten,kami KPID Banten. Adapun Untuk literasi Media ini, tujuan utama literasi media ini adalah memberikan penyadaran kepada masyarakat, bahwa saat ini telah hadir media-media berbasis internet, atau disebut media baru, seperti Medsos (FB, IG, Youtube, Tweeter, Tiktok),” kata Nashrudin.

Terkait hal tersebut, Nashrudin menyatakan bahwa peran dan fungsi KPID harus berjalan di tengah masyarakat. “Untuk itu, saya mengimbau kepada masyarakat agar melakukan pemilihan dan penggunaan Media yang baik dan tepat, sesuai waktu, tempat dan usia menjadi penting,” ucap Nashrudin. ” KPID Banten hadir untuk mencerdaskan masyarakat melalui literasi media,” lanjutnya.

Membentuk masyarakat cerdas berbasis teknologi informasi dan komunikasi tak semudah membalikkan telapak tangan. Di era digital, semua yang serba canggih dengan kemajuan teknologi dapat dirasakan oleh setiap orang zaman sekarang, dan sering kali dijadikan ‘kiblat’ dalam mengatasi segala masalah yang sedang dialami.

Kemajuan teknologi khususnya teknologi informasi saat ini melahirkan apa yang disebut revolusi industri ke-4 (industry 4.0) dan era ekonomi baru, ekonomi digital. di dunia, dari 7,6 milyar manusia, 4 milyar terhubung dengan internet dan 3 milyar menggunakan social media. Di indonesia, proporsinya tidak berbeda jauh, setengah dari seluruh penduduk indonesia terhubung dengan internet dan menggunakan social media. situasi ini melahirkan tantangan, dan kadang ancaman, tetapi juga peluang baru. khususnya bagi mereka generasi muda dan produktif.

H. Achmad Nashrudin, Bersama ketua KPID Banten, Haris Witharja, Prof. Ahmad Sihabudin, Sekan FISIP Untirta, dan Agus Efendi anggota DPRD Banten saat sesi Literasi Media di Kota Serang

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi millenial di era digital ini adalah bagaimana mereka bersikap terhadap unlimited information yang membanjiri kehidupan mereka. Internet telah diakses secara masif oleh generasi muda ini, terlebih dengan pemanfaatan smartphone. Salah satu dilemanya adalah bahwa banjir informasi tidak selalu membawa manfaat dan kebaikan, namun juga ‘sampah’ dan ‘racun’. misalnya, informasi di jaman ekonomi digital ini bisa ikut membantu menentukan pilihan studi atau pilihan kerja. Meski ada kekhawatiran hilangnya sejumlah pekerjaan karena digantikan komputer, mesin, atau robot, juga muncul peluang baru pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan di era digital. pengetahuan dan kemampuan tentang data analytics, kecerdasan buatan, dan big data akan menjadi kunci di masa depan. informasi semacam ini amat berguna dan dibutuhkan semua lapisan masyarakat, dalam menghadapi masa depan yang kompetitif.

Dalam dunia yang semakin terhubung, berkat internet dan jaringan, ruang dan waktu bukan lagi menjadi penghalang. Kunci dari pertumbuhan masyarakat menuju arah yang lebih baik adalah bagaimana manusia dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tersebut secara bijak dan optimal. Semua itu merupakan upaya menciptakan human centric intelligent society sebuah kehidupan masa depan yang lebih baik, di mana masyarakat dapat merasakan kedamaian dan keamanan dengan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan.

Beberapa contoh paparan media yang berdampak terhadap masyarakat adalah berseliwerannya berita hoax. Sebagai dampak berikut beberapa tips untuk menjadi masyarakat cerdas anti hoax:

Pertama, hati-hati dengan judul provokatif, berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. apabila menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya anda sebagai pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

Kedua, Cermati alamat situs, untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermati lah alamat url situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan. Menurut catatan dewan pers, di indonesia terdapat sekitar 43.000 situs yang mengklaim sebagai portal berita. sedangkan jumlah situs yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Berarti terdapat puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan hoax.

Yang ketiga, ikut serta dalam grup diskusi anti-hoax, di facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya forum anti fitnah, hasut, dan hoax (FAFHH), fanpage dan group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan lain-lain.

Jika pengguna internet menemukan konten hoax dalam media sosial dapat mengadukan konten negatif ke kementerian komunikasi dan informatika dengan melayangkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.

Warganet yang pintar ialah warganet yang bisa menyaring berbagai informasi yang diterima, sebelum dibagikan kepada orang lain.

Saat ditemui, H. Achmad Nashrudin P, S.IP., M.Ikom, Komisioner KPID Banten, yang juga Koordinator Bidang Kelembagaan mengatakan bahwa literasi media ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang perkembangan dan penggunaan media, terutama di era Media Baru sebagai dampak perkembangan teknologi.

Terakhir, Nashrudin yang juga dosen jurnalistik di Universitas Bina Bangsa, berharap melalui literasi media ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di Provinsi Banten. “Semoga melalui literasi media ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat di Provinsi Banten serta masyarakat semakin cerdas dalam memanfaatkan media di era digital ini,” tutup pak haji sapaan akrabnya