SERANG (Haluan Banten)- Gubernur Banten Wahidin Halim mengaku heran dengan tingginya angka pengangguran yang dirilis oleh BPS beberapa waktu lalu. Sebab, menurut nya , IPM Banten diatas rata-rata, begitu juga pertumbuhan ekonomi Banten juga diatas rata-rata nasional.

“Kemiskinan di Banten sudah rendah, rakyat miskin berkurang, kemampuan daya beli tinggi tapi pengangguran malah besar,” kata Wahidin saat menjadi narasumber dalam seminar FMB9 yang dipelopori oleh Dirjen Informasi, Komunikasi Publik Kemenkominfo RI yang bertajuk Membangun Indonesia Dengan Tenaga Kerja Berkualitas yang dilaselenggarakan di aula pendopo Gubernur, kp3b(6/12).

Menurutnya, tingginya angka pengangguran tersebut disumbang dari lulusan SMK, karena lulusan SMK yang mencapai ratusan ribu lulusan tiap tahun nya dan ternyata ada beberapa jurusan yang melebihi dari permintaan lapangan kerja.

“Jadi pengangguran cukup besar dari lulusan SMK,kelulusan tiap tahun nya juga tidak sesuai dengan lapangan pekerjaan yang tersedia ditambah lagi lulus namun tidak kompeten.” tutur nya

Selain tingginya lulusan SMK, pengangguran di Banten juga terjadi karena banyak nya kaum urban dari daerah lain yang datang ke Banten untuk bekerja di industri karena didaerah nya upah masih rendah. “Gak mungkin gubernur keluarkan maklumat melarang orang dari luar Banten datang ke sini, nanti dibilang melanggar HAM lagi,” kata Wahidin

Menanggapi pernyataan Gubernur, Kementrian PUPR mengklaim bahwa terjadinya pengangguran yang begitu besar disebabkan oleh rendah nya skill yang dimiliki oleh lulusan SMK.

“Kami dari Kementrian PUPR sangat membutuhkan tenaga kerja untuk pelaksanaan pembangunan insprastruktur. Untuk thn 2018 saja kami mempunyai dana sekitar 108 triliun yang tesebar seluruh wilayah indonesia.” tutur Direktur Kerjasama dan Pemberdayaan Kementerian PUPR, Dewi Chomistriana

Masih kata Dewi, tenaga kerja konstruksi untuk mendukung pembangunan insfrastruktur itu dibutuhkan sekitar 994 ribu orang setiap tahunnya. “Setipa tahun nya kami membutuhkan 994 ribu tenaga kerja konstruksi, baik tenaga ahli maupun tenaga terampil. Namun kenyataan nya, dari 994 ribu yang kita seleksi hanya sekitar 500 ribuan yang kompeten, ini sangat disayangkan. ” papar Dewi

Menanggapi hal tersebut, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad mengatakan, alasan kenapa banyak lulusan SMK yang menganggur, diantaranya karena banyak sekolah SMK ‘mismatch’ atau banyak sekolah SMK tidak sesuai jurusan dan kurikulum dengan bidang yang dibutuhkan oleh dunia kerja.”Masalah berikutnya karena ‘oper suply’, banyak siswa mengambil jurusan melebihi kebutuhan dunia kerja,” kata Hamid.

Menurut nya, untuk mengatasi persoalan tersebut, ada beberapa hal yang sudah dilakukan terkait revitalisasi SMK. Kemudian penyelarasan SMK dan membuka peluang kelas industri di SMK dengan kurikulum yang disesuaikan oleh perusahaan.”Kemudian kerjasama dengan industri dan lembaga sertifikasi profesi serta mengarahkan SMK ke bidang kewirausahaan,” kata Hamid

Sementara itu, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mendorong Perguruan Tinggi (PT) menghasilkan lulusan yang mampu melakukan kewirausahaan dan menciptakan lapangan pekerjaan.SDM lulusan perguruan tinggi harus diperbaiki. “memperbaiki SDM yang inovatif salah satu upaya untuk mengurangi angka pengangguran,kita harus melakukan perubahan sistem pindidikan,” kata Menristekdikti M Nasir

Menurutnya, harus dilakukan perbaikan kurikulum Perguruan Tinggi (PT) dengan menghasilkan lulusan yang mempu melakukan kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja.”Saya moratorium pendidikan sosial. Kemudian sain, enginering, matematika harus didorong agar mampu malakukan berbagai inovasi teknologi,” kata Nasir.

Kemudian, kata dia, pendidikan vokasi di tingkat SMA/SMK harus ditingkatkan serta perlu dibangun akademi komunitas berbasis pedesaan dan diperbanyak politeknik di daerah-daerah.”Menekan pengangguran adalah dengan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan dunia usaha. Kemudian Perguruan Tinggi juga harus punya lembaga sertifikasi profesi sesuai dengan bidangnya masing-masing,” katanya.

Menurutnya, Indonesia masuk negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 266 juta. Namun demikian, SDM Indonesia yang lulusan SMA/SMK dan yang tidak lulus sekolah angkanya mencapai 87,87 persen.”Lulusan Perguruan Tinggi di kita hanya 12,13 persen. Sebagian besarlulusan SMA/SMK sampai tidak lulus sekolah, ini tantangan kita kedepan” tutup Nasir.(trg)