PANDEGLANG, (Haluan Banten) – Perayaan Idul Fitri yang biasanya menjadi perayaan paling istimewa dan meriah, kali ini berbeda suasananya, karena pandemi Covid19 belum juga usai dan masih menyebar di negeri tercinta. Hal ini menyebabkan hilangnya beberapa tradisi Idul Fitri berkesan tahun lalu sekarang tidak bisa di ulangi tahun ini.

Solat Idul fitri di rumah sepertinya mengurangi esensi lebaran, karena masjid atau lapangan adalah tempat ritual penting di setiap perayaan idul fitri.

Di Negeri tercinta Indonesia ini ada Wilayah yang dikategorikan merah pandemi Covid19 terpaksa mentiadakan sholat ied berjamaah dan diminta sholat di rumah masing-masing, karena di khawatirkan masyarakat yang beribadah secara bersama-sama dalam satu tempat, berkumpul dengan ratusan hingga ribuan orang bisa berpotensi terjadinya penularan virus. Ini merupakan konsekuensi yang harus kita terima dari anjuran pemerintah untuk menjaga jarak secara fisik.

Di samping ada beberapa wilayah yang dikatagorikan merah pandemi covid-19, namun Alhamdulillah banyak juga wilayah atau daerah yang aman, contohnya daerah pedalaman, pinggiran kota, sehingga masyarakat masih bisa melaksanakan ibadah solat idul fitri secara berjamaah dengan tetap memperhatikan dan melaksanakan anjuran Pemerintah.

Tradisi yang hilang untuk sementara lainnya yaitu mudik, karena pelarangan yang diberikan pemerintah untuk tidak kemana-mana dirumah saja dengan maksud mencegah penyebaran virus ke wilayah lain.

Dan idul fitri tahun 2020, bukan hanya dihantui virus C-19, tapi lebih farah khususnya di daerah kami, yakni wabil khusus bagi komunitas guru swasta yang mengajar di sekolah swasta baik SMA maupun SMK dengan tidak keluarnya BOS, ini adalah pukulan telak, karena sekolah swasta sumber danaya hanya mengharapkan bantuan BOS.

Keberpihakan masih beruntung pada guru ASN, sehari sebelum hari H, keluar THR dan uang sertifikasi bagi guru yang telah tersertifikasi, walau guru-guru ASN dibayang-bayangi rasa cemas dan hawatir, karena waktu sehari itu menimbulkan kecemasan, walau status ASN tapi dalam kehidupan tidak jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya, sehingga psikologis kadang kala turut memainkan, apalagi ASN mustahil dapat sumbangan sembako, haha.

Saya dan keluarga setiap Idul Fitri biasanya melakukan mudik, mengunjungi kediaman orang tua tercinta di daerah ujung selatan kabupaten Pandeglang. Berkumpul dengan saudara-saudara di kampung halaman juga merupakan hal yang ditunggu-tunggu ketika mudik. Tradisi mudik ini sebetulnya sudah sangat berkesan karena selalu meninggalkan cerita berbeda-beda setiap tahunnya.

Namun, Idul Fitri di tahun 2020 ini ceritanya berbeda bagi saya. Karena saya menjelang puasa mendapatkan anugerah mempunyai pendaming hidup untuk yang ke dua kali setelah setahun yang lalu saya ditinggal istri tercinta. Anugerah luar biasa dari Allah SWT ini insyaallah menemani untuk berjuang menuju syurganya Allah, walau peroses penuh intrik dan cerita yang menghawatirkan disamping pengaruh C-19 juga faktor intern dan ekstern dari masing –masing keluarga kami.

Selagi harapan hidup untuk berbagi dan adanya protokoler dijalan yang harus di lalui. Hal-hal diatas yang membuat Idul Fitri tahun ini akan sulit dilupakan sampai kapan pun dan menimbulkan kesan mendalam.

Dan moga saya dan anda ada hikmah di semua peristiwa.

Ada satu lagi yang menambah keistimewaan Idul Fitri tahun ini, yaitu saya sering menulis di HALUAN BANTEN dan GERBANG BANTEN. Dan tulisan HARI RAYA IDUL FITRI TAHUN 2020 DALAM SUASANA COVID -19 yang menambah kesan berarti lebaranku tahu ini. Saya ucapkan terima kasih untuk media ini baik online maupun cetak dan tak lupa mohon Maaf Lahir Batin untuk teman-teman semua.

Taqabbalallahu Minna wa Minkum Shiyamana wa Shiyamakum. ( haji sartaman / Nasri )