
Serang, (haluanbanten.co.id) – Gubernur Banten Wahidin Halim mengajak masyarakat untuk bertani. Selain untuk memperkuat ketahanan pangan Banten, hal tersebut juga sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang mengimbau daerah untuk meningkatkan produksi pertanian karena adanya kekhawatiran krisis pangan dunia di tengah pandemi covid 19 saat ini.
“Saat ini, kita juga lagi mengembangkan gerakan-gerakan pertanian. Kita meningkatkan produksi beras, peternakan, dan sektor lainnya,” ujar Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) usai melakukan panen melon dan bawang di kawasan Sistem Pertanian Terpadu (Sitandu) Pemerintah Provinsi Banten, Jl Syech Nawawi Al-Bantani, Curug, Kota Serang, Senin pagi (18/01).
Gubernur Wahidin membenarkan jika Presiden Joko Widodo meminta daerah untuk memperhatikan sector pertanian. “Sekarang sector pertanian memang menjadi perhatian, terutama produksi beras yang ditingkatkan,” ujarnya yang didampingi Sekda Banten beserta sejumlah kepala OPD di jajarannya.
Menurut Wahidin, sebenarnya komoditi pertanian di Provinsi Banten, terutama beras, mencukupi jika hanya untuk kebutuhan masyarakat Banten. “Tapi saat ini kita juga memenuhi kebutuhan Jakarta,” ungkapnya.
Adapun pemenuhan kebutuhan bahan pokok akan diintervensi oleh BUMD Agrobisnis, kata Wahidin. “Tidak langsung dilempar keluar. Dibeli dulu oleh BUMD Agrobisnis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Banten,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk komoditi yang biasanya diimpor, tidak semuanya bisa terpenuhi, kata Wahidin. “Yang masalah pada komoditi kedelai karena masih impor, karena kedelai kita saat ini kualitasnya kurang sehingga kualitas produksi tahu tempe hasilnya juga kurang.”
Wahidin mengungkapkan jika sektor pertanian bukanlah hal yang baru dan sulit di Provinsi Banten. “Gubernur petani, kepala dinas petani, masyarakatnya juga banyak yang sehari-hari berpetani tapi persoalannya bagaimana hasilnya bisa ditingkatkan. ‘Ayo kita Bertani’ ,” ujarnya.
Menurut Wahidin, selain komoditi pokok, saat ini Provinsi Banten juga sedang mengembangkan tanaman porang. “Saat ini porang memiliki nilai ekonomi tinggi serta mudah dipasarkan.”
Saat ini, budidaya tanaman porang di Provinsi Banten sudah mencapai 200 hektar yang pengerjaannya dilakukan tidak hanya oleh petani saja, tetapi juga oleh para santri di beberapa pondok pesantren di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pendeglang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid menambahkan jika tahun ini Gubernur Banten memberikan bantuan produksi padi full paket untuk luasan lahan 200 hektar. Selain itu masih ada bantuan untuk pengembangan mina padi dan perkebunan.
“Untuk mempercepat pengolahan tanah, Gubernur akan memberikan bantuan sebanyak 120 unit hand tractor,” ujarnya.
Sementara saat disinggung kondisi pertanian di Provinsi Banten saat pandemi ini, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus Tauchid mengaku sangat bersyukur karena tidak berdampak sama sekali. “Kondisi pertanian di Provinsi Banten secara angka makro mikro, pandemic ini tidak berpengaruh.”
Bahkan justru sebaliknya, kata Agus, kondisi pertanian di Provinsi Banten sejak pandemic tahun 2020 berfokus sangat positif. “Mengapa demikian, karena pertumbuhan ekonomi baik triwulan satu, triwulan dua, bahkan triwulan tiga menunjukkan tren positif.”
Menurut Agus, hal tersebut berbalik dengan bidang yang lain yang justru terkontraksi. “ Hal tersebut menandakan bahkan pandemic ini sektor pertanian menjadi sektor yang paling menentukan. Mengapa demikian, di situlah peranan pangan, sepanjang manusia hidup, sepanjang itu pula mereka harus mempertahankan hidupnya. Berarti untuk bertahan mereka butuh makan. Nah di situlah pertanian teruji bisa menunjukkan yang terbaik.”
Agus mengungkapkan kebanggaannya terhadap bidang pertanian Provinsi Banten yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari Presiden Joko Widodo. “Kemarin Banten mendapatkan apresiasi dari Pak Jokowi dan Menteri Pertanian, kita naik kelas, yang semula produksi pangan kita peringkat ke sepuluh, kembali naik ke peringkat ke sembilan terbesar di nasional.”
Menurut Agus, hal tersebut menandakan bahwa apa yang dicanangkan Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Andika Hazrumi melalui target di RPJMD tercapai. “Saya selaku staf gubernur, Insya Allah mampu memberikan kinerja positif untuk peningkatan pangan di Banten.”
Agus mengungkapkan peningkatan komoditi terbesar di Banten memang berupa peningkatan produksi padi. Peningkatan yang lain terjadi pada komoditi ekspor pertanian. “Selain padi, ada peningkatan yang cukup signifikan di Banten adalah untuk peningkatan daya saing ekspor, peningkatan ekspor buah-buahan seperti manggis, gula aren, dan juga bahkan pada beberapa komoditas sarang burung wallet, dan yang dibudidayakan masyarakat ada peningkatan seperti ekspor talas beneng dan sebagainya.”
Menurut Agus, Banten juga menduduki peringkat kedua secara nasional secara kinerja melalui Balai Karantina Cilegon. “Ini menandakan bahwa kinerja juga ekspor di Banten, yang dihitung melalui Balai Karantina Cilegon, justru Banten berkinerja terbaik kedua secara nasional untuk kinerja ekspor sektor pertanian. “
Selain komoditas unggulan, saat ini Provinsi Banten juga mengembangkan produksi melon dan bawang merah varietas Bima Brebes di Sitandu. Pada umur 55 hari, varietas ini sudah memasuki waktu panen dengan produktivitas per hektar mencapai 12 ton. Untuk saat ini, produktivitas bawang merah di Provinsi Banten masih mencapai 6,2 ton per hektar.
Di Provinsi Banten, budidaya bawang merah tersebar di Kabupaten Serang (Kecamatan Kramatwatu dan Kecamatan Baros), Kabupaten Pandeglang (Kecamatan Panimbang dan Kecamatan Cimanuk) serta Kabupaten Tangerang (Kecamatan Rajeg, Kecamatan Sepatan, Kecamatan Sepatan timur, dan Kecamatan Pasar Kemis).
Sementara untuk demplot melon, yang ditanam adalah varietas Golden Melon Alisha. Pada usia 65 hari, varietas ini sudah memasuki waktu panen dengan produktivitas hingga 30 ton per hektar. Berbobot 0,8 kg hingga 2,5 kg per butir, tingkat kemanisan melon ini 12 hingga 16 brix. Keunggulan melon varietas ini memiliki buah dengan tekstur renyah serta rasa manis yang segar.
Saat ini, pengembangan pertanian melon di Provinsi Banten tersebar di Kota Cilegon (Purwakarta, Ciwandan, Pulo Merak, Cilegon, Cibeber, serta Citangkil), Kabupaten Serang (Waringin Kurung, Cikeusal, Walantaka, serta Ciruas) dan Kabupaten Tangerang di Kecamatan Teluk Naga. (Lesman Bangun)


