
Perpustakaan Universitas Pamulang, Sumber: dokumen pribadi
Sebagai alat komunikasi bahasa merupakan sarana untuk merumuskan maksud kita, melahirkan perasaan kita, dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan orang lain. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan dan pemikiran yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain merespon hasil pemikiran kita. Dan juga pada saat menggunakan bahasa sebagai komunikasi, berarti memiliki tujuan agar para pembaca atau pendengar menjadi sasaran utama perhatian seseorang.
Dewasa ini sering kita membahas pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui pengoptimalan peran bahasa dan sastra, oleh karena itu sekurangnya ada dua perspektif yang mengemuka. Pertama, dari sudut pandang paradigma pendidikan bahasa dan sastra. Pendidikan bahasa dan sastra dirasakan memang sangat penting karena ketika seorang pendidik memberikan pengajaran kepada anak-anak didiknya, ia harus bisa menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Apabila seorang pendidik mengunakan bahasa yang kurang baik, maka akan di contoh oleh anak-anak didiknya dan itu akan mengakibatkan peran bahasa dalam dunia pendidikan menjadi kurang berkualitas. Kedua, dari perspektif hubungan antara pendidikan bahasa, sastra, dan pembentukan karakter.
Untuk membentuk karakter bangsa ini, sastra diperlakukan sebagai salah satu media atau sarana pendidikan kejiwaan. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan, alam semesta, dan juga masyarakatnya. Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai ruang lingkup, salah satunya pemebentukan karakter yakni cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.

Koleksi buku milik perpustakaan Universitas Pamaulang, Sumber: dokumen pribadi
Dalam proses kehidupan tanpa sadar kita sudah menjadikan manusia sebagai subjek pendidikan misalnya dalam usaha untuk hidup berdampingan manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam proses tersebut, manusia dengan manusia satunya saling mempelajari dan memahami bagaimana karakternya, sifatnya, perasaannya, dan bagaimana cara berpikirnya, ini semua membutuhkan pembelajaran. Untuk mengetahui itu manusia tanpa sadar sudah menjadikan manusia sebagai subjek pendidikan. Jadi bisa dikatakan bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk memanusiakan manusia lainnya. Yang merupakan hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri yang didasari oleh rasa ingin dihargai atau disamakan dengan manusia lainnya.
Namun dewasa ini pendidikan tentang nilai-nilai sering disepelekan, dan karena itulah moral manusianya semakin menurun. Dimulai dari pendidikan nilai etis dan estetis yang merupakan sebuah proses pengajaran tentang nilai-nilai etis dan estetis, pendidikan nilai etis merupakan proses pengajaran tentang nilai yang sudah menjadikesepakatan umum dan biasa dikatakan nilai etika atau nilai moral (KBBI: 237).
Dalam hal penanaman berarti kita selaku pelaku pendidikan harus menanamkan nilai-nilai etika yang ada di keluarga, masyarakat, dan sekolah, agar si terdidik mengerti dan paham bagaimana menerapkan dan menjaga nilai- nilai etika tersebut. Kembali pada pendidikan etika yang merupakan sebuah perbuatan yang sudah membudaya karena tidak ada budaya yang jelek, suatu misal dengan adanya adat-istiadat, yang merupakan hasil kesepakatan semua orang, maka pengetahuan tentang adat ini harus diajarkan agar si terdidik mengerti dan mampu memberikan penilaian terhadap suatu perbuatan, apakah itu perbuatan yang baik atau pun tidak baik. Dengan adanya pendidikan atau penanaman nilai etis dan estetis ini seseorang mampu terhindar dari perbuatan yang melenceng dari nilai etis nilai estetis tersebut dan bahkan seseorang tersebut dapat mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap nilai-nilai tersebut.
Berbicara bahasa, sastra, dan pembentukan karakter merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat api dengan panasnya, ibarat air dengan basahnya, dan ibarat kapas dengan kainnya. Mengapa? Karena sastra melalui bahasa membicarakan berbagai nilai yang terkait dengan hidup dan kehidupan manusia di bumi. Bahkan hal-hal yang tidak dibahas dalam disiplin ilmu lain, dikupas di sastra. Oleh karena itu, bahasa dan sastra dapat dijadikan sumber pembentukan karakter.
Oleh: Ahmad Haetami


