Serang,(haluanbanten.co.id)Dinas Kesehatan provinsi Banten melaksanakan kegiatan review implementasi kesehatan kerja dan olah raga di provinsi Banten melalui Seksi Kesehatan Jiwa dan Tata Kelola Kesehatan Masyarakat. Kegiatan ini mengundang pengelola program kesehatan kerja dan olah raga pada Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di wilayah Provinsi Banten dan Puskesmas. Senin 10 Juni 2024. Di Lantai 3 Gedung Dinas Kesehatan Provinsi Banten di KP3B Curug Kota Serang.
Kepala Dinas Kesehatan Banten Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, Mars. dalam sambutanya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan capaian kinerja yang sudah dilaksakan, disamping itu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan kerja dan olahraga.
Selain itu juga menurut Ati Pramudji, kegiatan ini untuk menyamakan pemahaman dalam pengisian laporan setiap bulannya. Dengan adanya kegiatan review kesehatan kerja dan olahraga ini diharapkan pengelola program kesehatan kerja dan olahraga di dinas kesehatan kabupaten/kota dan puskesmas selalu bersinergis baik, dengan lintas sektor dan lintas program. “ Terlaksananya kegiatan program kesehatan kerja dan kesehatan olahraga dapat berjalan sesuai apa yang sudah terencana ditahun sebelumnya, dan kedepannya program kesehatan kerja dan olahraga dapat lebih meningkat lagi,” Harap Ati..

Kesehatan olahraga adalah suatu upaya kesehatan yang memanfaatkan aktivitas fisik dan atau olahraga untuk meningkatkan derajat kesehatan. “ Aktivitas fisik dan atau olah raga merupakan sebagian kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan kebugaran yang diperlukan dalam melakukan tugasnya,”ujar Ati.
Ditambahkan Ati Pramudji, majunya dunia teknologi akan mempermudah semua kegiatan sehingga menyebabkan kita kurang bergerak (hypokinetic), seperti penggunaan remote kontrol, komputer, lift dan tangga berjalan, tanpa diimbangi dengan aktifitas fisik yang akan menimbulkan penyakit akibat kurang gerak. Gaya hidup duduk terus-menerus dalam bekerja dan kurang gerak ditambah dengan adanya faktor risiko, berupa pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan penyakit tidak menular.
Menurut Ati Pramudji, studi who pada faktor-faktor risiko menyatakan bahwa gaya hidup duduk terus-menerus dalam bekerja adalah 1 dari 10 penyebab kematian dan kecacatan di dunia.
Lebih dari dua juta kematian setiap tahun disebabkan oleh kurangnya bergerak/ aktifitas fisik.
Pada kebanyakan negara diseluruh dunia antara 60% hingga 85% orang dewasa tidak cukup beraktifitas fisik untuk memelihara fisik mereka.
Untuk mengetahui berjalan atau tidak nya program kesehatan kerja dan olahraga di kabupaten kota dan puskesmas maka perlu adanya pencatatan dan pelaporan, sehingga didapatkan data untuk dijadikan evaluasi program.
Dengan kemajuan teknologi yang telah difasilitasi oleh kementarian kesehatan RI pencatatan dan pelaporan capaian implementasi kesehatan kerja dan olahraga diakomodir melalui aplikasi sitko (sistem informasi terpadu kesehatan kerja dan olahraga).
Data dapat ditampilkan mulai dari tingkat puskesmas, kabupaten/kota, provinsi dan pusat serta terintegrasi dengan program lain guna menyediakan data informasi secara lebih cepat dan akurat.
Berdasarkan hal tersebut, maka kami mengadakan “review implementasi kesehatan kerja dan olahraga di provinsi banten tahun 2024”.
Selain itu, melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta dapat mengoptimalkan kontribusi pemikiran. Agar seluruh peserta dapat mengimplementasikan di lingkungan kerjanya sehingga pelaksanaan implementasi kesehatan kerja dan olah raga dapat meningkat menjadi lebih baik lagi,”tegas Ati Pramudji. (Advetorial).


