SERANG, (haluanbanten.co.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto, terus berjalan di sekolah-sekolah Kecamatan Kragilan Kabupaten Serang dengan pengawasan ketat terhadap keamanan, higienitas, dan kualitas makanan hingga sampai ke tangan penerima manfaat.

Penyaluran MBG yang dikelola melalui Dapur Kramatjati I dan Dapur Kramatjati II dilaksanakan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dan berlapis.

Hal tersebut disampaikan Wildan sebagai Perwakilan Mitra Yayasan/pengelola , saat dikonfirmasi beberapa wartawan di ruang kerjanya, Senin (9/2/2026), terkait mekanisme penyaluran MBG ke 13 sekolah mitra tingkat SD, SMP, MTs dan SMA di Kecamatan Kragilan dari dua dapur.

Menurut Wildan, seluruh makanan yang diproduksi dalam program MBG telah melalui tahapan pengawasan higienitas secara menyeluruh sebelum didistribusikan ke sekolah.

“Setiap makanan sebelum dipacking ke dalam ompreng terlebih dahulu diuji dan dicicipi oleh chef, Kepala SPPG, serta ahli gizi. Seluruh SPPG telah memenuhi standar dan memiliki kompetensi sesuai ketentuan,” jelas Wildan.

Ia menambahkan, seluruh bahan baku yang digunakan dipastikan dalam kondisi bersih, aman, bebas hama, serta memiliki masa kedaluwarsa yang masih panjang, sehingga potensi risiko kerusakan bahan dapat dicegah sejak awal proses produksi.

Lebih lanjut, Wildan menjelaskan bahwa tanggung jawab operasional berada pada pihak mitra, sementara pengawasan dapur dikoordinasikan langsung oleh Kepala SPPG.

Seluruh alur kerja, mulai dari produksi hingga distribusi, dimonitor secara menyeluruh oleh SPPG hingga pemerintah.

Terkait mekanisme penanganan apabila ditemukan makanan yang kurang layak, Wikdan menegaskan bahwa pihak sekolah melalui PIC (Person in Charge) dapat segera melaporkan kepada SPPG dan mitra untuk dilakukan evaluasi dan penanganan cepat.

“Setiap laporan akan kami tindak lanjuti secara cepat melalui koordinasi bersama pihak sekolah agar permasalahan dapat diselesaikan secara tepat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa seluruh sekolah mitra telah memiliki MoU resmi dengan Kepala SPPG, dan pihak mitra berkomitmen penuh menjalankan seluruh tanggung jawab sesuai perjanjian tersebut.

Wildan mengatakan bahwa program MBG dijalankan dengan sistem pengawasan berlapis sesuai struktur organisasi dan SOP di setiap divisi.

“Monitoring dilakukan sejak tahap persiapan bahan, proses memasak, hingga makanan diterima di sekolah,” ujarnya.

Mereka menjelaskan, setiap sekolah memiliki PIC yang bertugas mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada siswa.

Jika ditemukan makanan yang kurang layak, PIC wajib segera melapor agar makanan tersebut tidak dikonsumsi.

“Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan KLB (Kejadian Luar Biasa). Setiap laporan menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan,” jelasnya.

Setiap menu juga diambil sampelnya sebagai bagian dari kontrol kualitas.
Lebih jauh, program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga berperan dalam menggerakkan perekonomian lokal, dengan melibatkan UMKM, petani, peternak, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Dengan keterlibatan sekitar 47 relawan di setiap dapur MBG, tentu ada banyak penyesuaian dan proses pembelajaran.

,”Namun kami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan berkelanjutan dan menjaga amanah program Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk perhatian negara kepada generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas,” tutupnya.(*/Jon)