Rembang – Jamu menjadi minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Minuman tersebut memang dipercaya memiliki manfaat kesehatan yang baik bagi tubuh karena terbuat dari bahan-bahan tumbuhan dan rempah-rempah.

Kebiasaan minum jamu pun masih bertahan hingga saat ini. Sejak puluhan tahun lalu bukan hal yang aneh ketika melihat seorang perempuan mengenakan kebaya lengkap dengan kain sebagai bawahannya berjalan sambil menggendong bakul berisikan botol-botol jamu. Mereka adalah pedagang jamu gendong.

Harga segelas jamu yang relatif murah membuat minuman herbal itu diminati. Meski demikian pedagang jamu gendong pun sudah mulai tergerus oleh zaman.

Penjual jamu mak Suminah (40) mengungkapkan Bermodalkan resep jamu turun temurun dari sang nenek, diapun memulai usaha kecil-kecilan tersebut dan untuk meramu resep jamu tersebut juga masalah marketingnya.

“Usaha berjualan jamu gendong keliling ini untukmembantu suami yang kerjanya serabutan pak agar roda perekonomian dalam keluarga lancar,” ujarnya kepada team jurnaiis Kodim 0720, Selasa (06/11).

“Ibu saya bilang kenapa tidak jualan jamu saja. Awalnya juga saya mikir kok jualan jamu ini siapa yang mau beli, sudah gitu kami juga tahu jamu keliling segelas hanya tiga ribu, saya pikir tidak mungkin jual lebih mahal,” ucapnya kemudian.

Peminat jamu, kata Suminah, ternyata masih banyak di sini. Kebanyakan Suminah mendapatkan pesanan selama ada kegiatan TMMD Reguler ke 103 di Desa Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang, salah satunya Satgas TMMD Serda Suminto mengungkapkan dengan pekerjaan yang menguras tenaga ini tidak cukup hanya makan yang banyak, memang harus di siapakan vitamin atau jamu biar badan sehat kembali agar semangat dan kuat dalam pengerjaan jalan.

Suminah pun berani menjamin jika bahan yang digunakannya alami. Dia juga rela membeli alat rangsing yang berguna untuk membersihkan tanah-tanah pada kulit kunyit dan jahe.

“Saya bikin kemasan jamu premium yang bahannya benar alami, seperti kunyit dengan manual untuk membersihkannya.,” ucapnya.(0720)