Pandeglang, (Haluan Banten) Sudah bukan rahasia lagi bahwa sistem pendidikan Kita mengalami permasalahan hampir di setiap aspeknya. Guru terbebani dengan urusan birokrasi, siswa terbebani oleh kurikulum yang menuntut, sementara orang tua tidak punya banyak alternatif. Mirisnya, lembaga pemerintah yang bergerak di bidang ini tidak mampu memberikan solusi, bahkan cenderung menambah masalah.

Di tengah situasi pandemi covid -19 yang belum kunjung selesai ini, guru sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan siswa harus mengubah pola pikir. Meruntuhkan sistem bebal di pusat tidaklah mudah, tetapi perubahan bisa dimulai dari ruang lingkup yang kecil. Ruang kelas dan sekolah adalah contoh nyata di mana perubahan itu bisa diciptakan., sistem daring dan luring memang banyak hikmahnya, walau sebenarnya ingin dikatakan banyak masalahnya.

“Hal pertama yang harus berubah ialah cara pandang guru tentang pendidikan dan relasi guru-siswa, penulis bicara guru, karena sejak 1985 sudah jadi guru, dan menyadari jadi guru itu tidak mudah, sebagaimana ungkapan prof Sulaeman guru besar UPI Bandung ‘ jadilah guru yang baik, jika tidak, lebih baik jangan jadi guru ‘’

Guru menempatkan diri sebagai teladan, pemberi inspirasi, dan fasilitator bagi siswa. Hal ini akan membawa perubahan cara mendidik dengan lebih banyak berdiskusi dan membangun nalar. Bukan dengan dikte dan menghafal ataupun hanya berlatih berdasar kisi-kisi soal ujian.

“Sekolah harus memberi otonomi bagi guru untuk mengadaptasi materi pelajaran sesuai kebutuhan kelas. Hal ini yang masih menjadi tantangan karena mayoritas pekerjaan guru adalah kewajiban mengisi administrasi seperti rencana dan laporan pembelajaran,”

Guru yang terbelenggu oleh birokrasi menghasilkan siswa yang terbelenggu pula. Akibatnya, siswa tidak mendapat kemampuan yang sangat dibutuhkan di era disrupsi, yaitu nalar, kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian. Mereka tidak bisa mencapai sasaran pembelajaran abad ke-22, mencari jalan keluar untuk permasalahan di sekitar.

“Bagaimanapun juga, konsumen sekolah adalah siswa. Pembelajaran harus mendengar aspirasi dan kebutuhan mereka,” . Guru mengajar siswa literasi dan nalar, jangan memberi mereka sekadar keterampilan yang bisa digantikan oleh mesin, melainkan keterampilan mengembangkan kreasi baru.”

Menjadi Guru yang Inovatif
Pentingnya keberanian guru dalam mempraktikan kegiatan belajar yang berbasis menyenangkan, jujur-jujur saja penulis diawal menjadi guru ketika di Madrasah Aliyah (MA) dan di Sekolah Teknologi Menengah (STM) sosok guru yang galak dan suka menghukum siswa. “Saya stres kenapa siswa sudah diajar berkali-kali kok tidak bisa juga? Ternyata saya salah karena tidak membangun komunikasi yang baik dengan mereka,”

Hal tersulit untuk adanya perubahan adalah menaklukkan ego “guru harus disegani siswa”. Seiring berjalan waktu dan bertambahnya usia jadi guru itu mudah, jika membawa siswa belajar berbasis nalar dalam artian logis bukan menghapal mereka memahami makna pelajaran.

Satu-satunya cara agar siswa muncul kemauan belajarnya ialah ketika mereka nyaman di kelas, dan terbebas dari rasa takut terhadap guru.
“Saya mengganti aturan yang berbentuk perintah. Saya dan siswa membuat kesepakatan. Misalnya, apabila siswa terlambat mengumpulkan tugas satu hari, nilai dikurangi,” dan siswa yang pertama selesai mengerjakan tugas memperoleh nilai istimewa. Walhasil, siswa dengan kesadaran sendiri mengerjakan tugas.

Terkadang menggunakan # kac ‘ ( hestek komunitas anak cerdas) dengan menggunakan hestek itu siswa termotivasi di kelas. Setiap hari, mereka bersemangat karena anggapannya telah masup komunitas anak cerdas, walau hanya versi guru mapel.

Biasa juga bercerita tentang cinta yang muaranya adalah belajar, sehingga pesannya tak vulgar harus belajar.

“Ternyata, tidak butuh methoda yang rumit untuk menarik perhatian mereka,” selain itu dengan panggilan anak sholeh, anak kebanggaan orang tua jadi berani mengangkat tangan untuk bertanya mengenai materi yang tidak mereka pahami.

Mengubah sistem yang baku memang tidak mudah, tetapi guru sebagai agen pendidikan bisa memulai perubahan tersebut. Butuh waktu dan pengorbanan, namun tidak ada yang sia-sia jika yang disasar adalah kemajuan generasi bangsa.

Kreasi dan inovasi hanyalah jalan masuk untuk membangun nalar berpikir yang maju untuk anak-anak kita. Sehingga maju bersama, hebat semua bukan hanya ikon tapi sebagai penyemangat dalam membangun motivasi.