Lebak, (haluanbanten.co.id) – Perkembangan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa. Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja akan meningkakan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.
Anemia pada remaja putri (rematri) bila dibiarkan akan berdampak pada kesehatan dan prestasi di sekolah dan nantinya akan berisiko anemia saat menjadi ibu hamil yang dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang tidak optimal serta berpotensi menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan serta kematian ibu dan anak.
Program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dimulai sejak tahun 2014 dan saat ini menjadi salah satu intervensi spesifik dalam upaya penurunan stunting.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Kesehatan dan Komisi V DPRD Provinsi Banten mengadakan Sosialisasi dan Pencanangan Terintegrasi Minum Tablet Tambah Darah (TTD) Dalam Rangka Intervensi Gizi Spesifik (Pencegahan Stunting) di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Kamis 16 Maret 2023.
Dr. dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengatakan intervensi spesifik adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mengatasi penyebab langsung terjadinya stunting.
Dia mencontohkan, intervensi gizi spesifik meliputi peningkatan konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri dan ibu hamil dan memastikan distribusi tablet tambah darah ke sekolah-sekolah dan juga pesantren.
Intervensi juga meliputi peningkatan cakupan pemberian ASI eksklusif bagi bayi dan memperkuat dukungan keluarga serta tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif.
“Saat ini yang kita lakukan adalah dengan Intervensi Spesifik, kita lakukan intervensi mulai dari 1000 hari pertama kehidupan” kata Ati.
“Pemda juga perlu membuat kebijakan daerah yang mendukung peningkatan cakupan ASI eksklusif serta menggencarkan edukasi secara berkesinambungan,” tambah Ati.
Melihat kondisi tersebut, maka upaya pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi penting untuk diberikan untuk remaja putri dalam proses pertumbuhannya.
Selain untuk meminimalisir potensi anemia yang berakibat terhadap kesehatan dan prestasi di sekolah, pemberian tablet tambah darah juga untuk mempersiapkan kesehatan remaja putri pada saat sebelum menjadi seorang ibu. Pemberian TTD pada remaja putri ini untuk mencegah ibu nantinya melahirkan bayi dengan tubuh pendek (stunting) atau berat badan lahir rendah (BBLR)
Dengan minum TTD secara rutin, diharapkan mampu mengurangi potensi anemia dan lahirnya bayi dalam keadaan stunting dari para ibu di Indonesia khususnya Banten, sehingga terciptanya generasi muda dan generasi penerus yang sehat serta mampu berdaya saing dapat terbentuk dengan maksimal.
Sementara itu, Anggota Komisi V DPRD Banten, Ade Hidayat, S.kom menuturkan bahwa Remaja Putri perlu diberikan Tablet Tambah Darah (TTD) dikarenakan mereka akan mengalami menstruasi sehingga kehilangan banyak darah, sehingga mereka memerlukan zat besi serta protein dalam asupan makanan sehari-hari.
“Saat ini sedang kita upayakan meningkatkan status gizi remaja putri guna memutus mata rantai terjadinya stunting dan kasus anemia serta meningkatkan zat besi dan protein uuntu mempersiapkan generasi yang sehat berkualitas dan produktif ” ujar Ade.
Pemerintah saat ini sedang gencar melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah, pesantren hingga puskesmas-puskesmas agar remaja putri dan ibu hamil lebih memperhatikan asupan zat gizi, zat besi serta protein dalam makanan sehari-hari.
“Ditambah perlunya penerapan makanan bergizi seimbang saat konsumsi TTD, ditambah banyak konsumsi air putih serta mengkonsumsi buah-buahan tinggi vitamin C,” tambah Ade.
Ade menuturkan jika perlunya dilakukan Pemantauan dan evaluasi secara berkala baik di Tingkat Pusat maupun dari Kabupaten/Kota sebab pemantauan dan evaluasi ini merupakan salah satu bagian terpenting dalam siklus pengelolaan pemberian TTD.
“Pemerintah Kabupaten/Kota dari sektor kesehatan maupun sektor terkait lain harus memantau dan mengevaluasi setiap 2 kali setahun atau menyesuaikan dengan kebutuhan daerah.” tutur Ade.
“Terakhir Saya berharap, Mudah-mudahan angka stunting maupun anemia di 8 Kabupaten/Kota di Provinsi Banten semakin menurun. Hal ini menjadi gambaran kedepannya bahwa Provinsi Banten untuk dapat berada di bawah rata-rata angka nasional, bahkan menunjukkan angka zero.” tutup Ade.
Untuk diketahui acara ini oleh Camat Leuwidamar, Kepala Puskesmas, Pj Program Gizi, Pj Promkes, Pj Program Remaja UPTD Puskesmas Leuwidamar, Kepala Desa Leuwidamar beserta jajaran, Peserta dari Sekolah dan Pesantren. (Adv)


