
*Pirgi Pirmansyah*
Populisme muncul sebagai salah satu fenomena yang mempengaruhi pandangan masyarakat di tengah dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks. Faktor utama yang menyebabkan polarisasi dalam masyarakat adalah populisme, yang sering digambarkan sebagai metode politik yang mengambil suara rakyat dengan mengklaim mewakili kepentingan “orang biasa” melawan “elit”. Dengan munculnya populisme, perspektif masyarakat terbelah menjadi dua atau lebih yang saling berlawanan satu sama lain.
Populisme memiliki narasi yang sederhana dan emosional. Pemimpin populis sering menggunakan bahasa yang mudah dipahami untuk menyentuh perasaan rakyat, sehingga mereka dapat mendapatkan dukungan dan perhatian dari mereka. Meskipun demikian, daya tarik ini memiliki ancaman yang besar, yaitu menyederhanakan masalah yang kompleks. Dalam upaya mereka untuk mendapatkan dukungan, populis sering kali mengabaikan hal-hal kecil dan penting. Akibatnya, mereka menciptakan sebuah pandangan hitam-putih yang membedakan mereka satu sama lain.
Dampak dari Populisme.
Populisme menyebabkan polarisasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di dunia politik, pemilih sering kali terpecah menjadi dua kelompok: pendukung populis dan mereka yang menolak. Seringkali, percakapan yang seharusnya konstruktif berubah menjadi perselisihan yang penuh emosional dan kebencian. Hal ini tidak hanya merusak hubungan antar orang, tetapi juga menghambat kemajuan dalam pengambilan keputusan yang berbasis bukti dan rasional.
Selain itu, populisme sering memanfaatkan ketidakpuasan sosial dan ekonomi di masyarakat. Populis menawarkan solusi instan yang tampaknya menguntungkan dalam situasi di mana rakyat yang merasa terpinggirkan atau tidak didengar. Solusi, bagaimanapun, seringkali bersifat sementara dan tidak mengatasi masalah yang sebenarnya. Akibatnya, kekecewaan meningkat dan polarisasi meningkat ketika harapan tidak terpenuhi.
Pengaruh Media.
Peran media juga memperburuk keadaan dari fenomena ini. Dalam era digital dan internet, informasi dapat dengan cepat tersebar, dan media sosial menjadi alat utama untuk menyebarkan cerita populis. Berita yang imbang tidak begitu menarik perhatian seperti berita yang provokatif dan sensasional. Hal ini menyebabkan pandangan ekstrem lebih mudah berkembang, dan suara moderat dikurangi.
Namun, ada kemungkinan bahwa polarisasi yang disebabkan oleh populisme akan mereda. Pertama, masyarakat harus kembali ke dasar pendidikan politik yang kuat. Masyarakat harus diajarkan untuk berpikir kritis, menganalisis data, dan memahami kompleksitas masalah yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, mereka tidak mudah terjebak dalam narasi populis yang mengaburkan kenyataan.
Kedua, sangat penting untuk mendorong orang-orang dari berbagai latar belakang untuk berbicara satu sama lain. Masyarakat harus diajak untuk berbicara dan mendengarkan satu sama lain tentang perbedaan pendapat mereka. Dialog dapat membantu kita memahami satu sama lain dan mengurangi ketegangan yang ada. Akhirnya, media harus berkomitmen untuk menyajikan berita yang akurat dan berimbang serta memberikan platform bagi berbagai suara, bukan hanya yang ekstrem, sehingga mereka dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mengurangi polarisasi.
Penutup
Semua orang memiliki tanggung jawab untuk menghadapi populisme dan polarisasi yang dihasilkannya. Mari kita bekerja sama untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis di mana saling menghargai perbedaan dan percakapan digunakan sebagai cara untuk mencapai konsensus. Hanya dengan cara ini kita dapat mengatasi masalah dan membangun masa depan yang lebih baik untuk semua orang.
*penulis adalah mahasiswa Pengantar Ilmu Politik, Prodi Komunikasi, FISIP UNTIRTA*


