Oleh : SOEGANDA PRIYATNA
Gurubesar (PB) Fikom UNPAD
Maret 2018 dunia Politik Indonesia digegerkan oleh pernyataan tokoh nasional Prabowo Subianto calon Presiden saat itu bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Pernyataan itu disampaikan Prabowo Subianto dalam pidatonya di Universitas Indonesia yang kemudian menjadi viral baik di media umum mapun lebih seru lagi di media social. Sampai sekarang khalayak berpikir itu adalah pemikiran Prabowo Subianto.
Sesungguhnya yang disampaikan Prabowo Subianto adalah tentang scenario perang antara China dan Amerika yang disadurnya dari sebuah buku novel berjudul Ghost Fleet ( Armada Hantu}. Dalam buku itu ada 7 kata Indonesia pada 6 halaman yang dilabeli “the former Indonesia” atau “yang dulunya Indonesia” dan pada 6 halaman yang lain dituliskan “used to be Indonesia” atau “yang dulu biasa disebut Indonesia”.
Itulah yang kemudian disampaikan Prabowo Subianto “mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi”. Sesungguhnya tidak ada kata bubar dalam buku itu. Yang aneh adalah mengapa disebut tahun 2030 karena dalam buku itu hanya ada satu angka 2030 yaitu yang berkaitan dengan berlakunya Renminbi (RMB) mata uang China sebagai The Globe Reserve Currency. Mungkin Prabowo menafsirkan keberhasilan renminbi itu sebagai kemenangan perang neocortex China pada tahun 2030 dan menegaskan bahwa Indonesia tinggal menjadi catatan sejarah. Atau mungkin diambil sebagai counternya hasil kajian PwC tahun 2017 yang menyebutkan Indonesia berdasarkan Market Exchange Rate justeru diproyeksikan tahun 2030 menduduki peringkat 9 PDN atau peringkat 8 menurut Purchase Power Parity. Pokoknya tahun 2030 tiba-tiba menjadi standard kehidupan Republik Indonesia. Inilah salah satu kebiasaan Prabowo untuk mengambil kesimpulan yang cepat tanpa ketelitian dan akurasi sebagaimana kasus2 kebijakan Prabowo yang sekarang kita lihat dan alami.
Ghost Fleet (Armada Hantu)
Novel seperti Ghost Fleet itu memang sebenarnya tidak perlu menjadi kehawatiran nasional, tetapi karena penulisnya adalah orang-orang yang mumpuni dalam menganalis strategi perang modern maka mau tidak mau kita harus tetap siaga dan waspada agar novel itu tidak menjadi realita kehidupan. Coba kita cermati penulis novel itu. Pertama Peter Warren Singer ia adalah Sarjana Hubungan Internasional lulusan Princeton University dan PhD dari Harvard University, Ahli Perang Modern, Ahli Strategi New America Foundation, Konsultan Militer USA, dan Masyarakat Inteligence, Peneliti politik dan perang, editor lepas untuk majalah Science & Technology. Buku-buku best sellernya sebelum Ghost Fleet adalah : Corporate Warriors, Children at War dan Wired for War. Penulis Keduanya adalah August Cole, Senior Fellow dari Atlantic Council yang fokusnya adalah menggunakan fiksi untuk eksplorasi masa depan peperangan dan ia juga reporter industry pertahanan untuk Wall Street Journal. Dengan segudang kompetensi, pengetahuan dan pengalaman mereka maka rasanya novel mereka ini perlu perhatian kita, bukan untuk dicemasi tapi untuk memahami dan mempersiapkan diri.
Buku ini diawali para penulisnya dengan mencatatkan : “the following was inspired by real world trends and technology. But ultimately, it is a work of fiction not prediction” (Yang berikut ini diilhami oleh kecenderungan dunia dan teknologi yang nyata. Tetapi sungguh ini adalah fiksi bukan prediksi)
Sebagai sebuah novel jangan kita bayangkan bahwa ini adalah sebuah ceritra kehidupan yang runtun tentang seseorang, meskipun diawali dengan cerita yang manusiawi, candaan antara seorang kosmonot Rusia dan seorang astonot Amerika, yang kantong tidurnya dijahit oleh kosmonot Rusia. Panggungnya Setasiun Ruang Angkasa Internasional 234 mil diatas permukaan bumi. Setelah itu panggungnya berpindah-pindah ke Mariana Trench, sebuah stasiun China 10.590 meter dibawah permukaan laut, lalu Kapal Angkatan Laut US Navy P-8 diatas Mariana Trench, lalu National Defence Reserve Fleet di Suisun Bay, California. Tokohnyapun ganti berganti.
Bukan hanya Indonesia yang terpaut dalam novel ini yang dituliskan sebagi collapse setelah perang Timor yang kedua, tapi juga Saudi Arabia yang terkena bom di Dhahran, sehingga harga minya tak terkendali. Tapi China telah menemukan ladang gas di Mariana Trench yang mengamankan kebutuhan energy China. China sendiri dituliskan terjadi khaos yang menyebabkan jatuhnya Partai Komunis China. China kemudia diperintah oleh Aliansi Pengusaha dan Militer yang disebut Directorate.
Dengan kemampuan teknologi China dibantu Rusia mampu mematikan rangkain bom nuklir Amerika dan setelah perang berdarah-berdarah China menghancurkan dan menguasai rangkaian tiga pulau Pacific sampai Hawai dan mendirikan Hawaii Special Administrative Zone.
Amerika melawan dengan Armada Hantu yang intinya adalah United States Navy Reserve. Penduduk O’ahu bersama dengan sisa sisa laskar Amerika kemudian membentuk NSM (North Shore Mujahideen, sic) mengambil pelajaran dari taktik perang dari Mujaheedin di Irak dan Afganistan.
Singkat cerita perang diakhiri dengan status quo, dengan Amerika dan China mampu bangkit kembali dari keterpurukan perang, sementara Rusia semakin terpecah sehingga terbentukny Republik Rakyat Moskow.
Singer dan Cole dengan cerdik mengutip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War : “You can fight a war for a long time or you can make your nation strong (Anda dapat berperang untuk waktu yang lama atau anda dapat membuat bangsa anda kuat).
Mengapa novel fiksi dan bukan prediksi
Kalau saja Singer dan Cole itu menulis prediksi, dengan kemampuan yang mumpuni dari kedua penulis itu maka akan timbul kegegeran global. Semua kalangan, militer, politisi, pengusaha, akademisi akan segera mengambil sikap. Benturan pertahanan antar negara akan akan tereskalasi, para politisi akan sigap melakukan lobby dan aliansi, pengusaha akan berusaha mengubah strategi dan mengamankan assetnya, para akademisi mungkin malah akan ketinggalan karena semua sudah beraksi, kecuali laboratorium teknologi cyber yang dituntut jawaban dalam waktu yang singkat. Maka Singer dan Cole menulis dalam bentuk novel fiksi, yang menggugah kesadaran bahwa itu bisa saja terjadi sehingga semua mampu menyesuaikan diri untuk mencegahnya. Mengapa bentuk novel ? Karena novel cerita roman menurut kamus Peter Salim. Jadi baca saja dengan romantis, walaupun ternyata tidak mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan sekelilingnya secara verbal. Novel juga diartikan sebagai narasi fiksionalitas pemikiran yang berakar pada keyakinan dan memperindah suatu opini. Kata John F. Kennedy “jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya, jika politik itu bengkok, prosa akan meluruskannya” Persis seperti humor yang bisa mengeritik tanpa tersinggung, kata Timbul dari Srimulat.
Tak perlu cemas tapi perlu waspada
Ada beberapa catatan dari fiksi Singer ini tentang Indonesia dan sekitarnya. Pertama, Indonesia sdh kolaps karena anarki dan perang Timor lagi. Kedua, di halaman 28 Jenderal China Wang menyebutkan tentang Program penghancuran stabilitas Indonesia. Ketiga, Selat yang memisahkan Malaysia dan “bekas” Indonesia menjadi daerah tak bertuan yang dipenuhi perompak (bayangan Singer dan Cole mungkin seperti Somalia) yang menggunakan perahu kecil, senjata penuh dan drone buatan sendiri. Hasil rompakan digunakan untuk membiayai militant yang tidak jelas.
Tentang kolapsnya Indonesia karena anarki dan hancurnya stabilitas maka kita dapat mengaca diri dan mewaspadai perang neocortex (neocortical warfare). Menurut Sayidiman Suryohadiprodjo (mantan Gubernur Lemhanas) perang neocortex adalah bukan perang seperti konsep Clausewitz, bertempur habis-habisan, melainkan sesuai dengna strategi Sun Tzu yaitu musuh tunduk kepada kehendak kita tanpa menggunakan pertempuran. Kalau neocortex (bagian dari otak) dapat dipengaruhi, maka manusia itu dapat dikendalikan. Contoh sederhana menurut Sayidiman penyuapan dalam segala bentuknya akan membuat yang disuap mengikuti kehendak penyuap.
Sebagian menyebutnya perang asymetris atau perang proxy yaitu menguasai seseorang atau satu group mewakili kepentingan sebuah negara atau aliansi untuk menghancurkan lawan. Sasaran perang proxy ini adalah pertama, membelokan sistem sebuah negara sesuai kepentingan, kedua, melemahkan ideologi dan mengubah pola pikir rakyat, ketiga, menghancurkan food security dan energy security.
Barangkali kecenderungan seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Menarik justeru Indonesia masuk dalam scenario penulisan Singer & Cole karena Indonesia sesungguhnya adalah negara besar dengan segala kekayaan yang melimpah dan bonus demografi. Fiksinya Singer dan Cole mari kita layani dengan kerja keras, awasi kekayaan negara kita, hancurkan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah mewabah, hapuskan ketidak adilan, hilangkan perbedaan, bersatu dalam mempertahankan dan memakmurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga negeri kita ini diisi oleh kedamaian, persatuan dan kompetisi yang adil dan beradab.
digegerkan oleh pernyataan tokoh nasional Prabowo Subianto calon Presiden saat itu bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Pernyataan itu disampaikan Prabowo Subianto dalam pidatonya di Universitas Indonesia yang kemudian menjadi viral baik di media umum mapun lebih seru lagi di media social. Sampai sekarang khalayak berpikir itu adalah pemikiran Prabowo Subianto. Sesungguhnya yang disampaikan Prabowo Subianto adalah tentang scenario perang antara China dan Amerika yang disadurnya dari sebuah buku novel berjudul Ghost Fleet ( Armada Hantu}. Dalam buku itu ada 7 kata Indonesia pada 6 halaman yang dilabeli “the former Indonesia” atau “yang dulunya Indonesia” dan pada 6 halaman yang lain dituliskan “used to be Indonesia” atau “yang dulu biasa disebut Indonesia”.
Itulah yang kemudian disampaikan Prabowo Subianto “mereka ramalkan tahun 2030, Republik Indonesia sudah tidak ada lagi”. Sesungguhnya tidak ada kata bubar dalam buku itu. Yang aneh adalah mengapa disebut tahun 2030 karena dalam buku itu hanya ada satu angka 2030 yaitu yang berkaitan dengan berlakunya Renminbi (RMB) mata uang China sebagai The Globe Reserve Currency. Mungkin Prabowo menafsirkan keberhasilan renminbi itu sebagai kemenangan perang neocortex China pada tahun 2030 dan menegaskan bahwa Indonesia tinggal menjadi catatan sejarah. Atau mungkin diambil sebagai counternya hasil kajian PwC tahun 2017 yang menyebutkan Indonesia berdasarkan Market Exchange Rate justeru diproyeksikan tahun 2030 menduduki peringkat 9 PDN atau peringkat 8 menurut Purchase Power Parity. Pokoknya tahun 2030 tiba-tiba menjadi standard kehidupan Republik Indonesia. Inilah salah satu kebiasaan Prabowo untuk mengambil kesimpulan yang cepat tanpa ketelitian dan akurasi sebagaimana kasus2 kebijakan Prabowo yang sekarang kita lihat dan alami.
Ghost Fleet (Armada Hantu)
Novel seperti Ghost Fleet itu memang sebenarnya tidak perlu menjadi kehawatiran nasional, tetapi karena penulisnya adalah orang-orang yang mumpuni dalam menganalis strategi perang modern maka mau tidak mau kita harus tetap siaga dan waspada agar novel itu tidak menjadi realita kehidupan. Coba kita cermati penulis novel itu. Pertama Peter Warren Singer ia adalah Sarjana Hubungan Internasional lulusan Princeton University dan PhD dari Harvard University, Ahli Perang Modern, Ahli Strategi New America Foundation, Konsultan Militer USA, dan Masyarakat Inteligence, Peneliti politik dan perang, editor lepas untuk majalah Science & Technology. Buku-buku best sellernya sebelum Ghost Fleet adalah : Corporate Warriors, Children at War dan Wired for War. Penulis Keduanya adalah August Cole, Senior Fellow dari Atlantic Council yang fokusnya adalah menggunakan fiksi untuk eksplorasi masa depan peperangan dan ia juga reporter industry pertahanan untuk Wall Street Journal. Dengan segudang kompetensi, pengetahuan dan pengalaman mereka maka rasanya novel mereka ini perlu perhatian kita, bukan untuk dicemasi tapi untuk memahami dan mempersiapkan diri.
Buku ini diawali para penulisnya dengan mencatatkan : “the following was inspired by real world trends and technology. But ultimately, it is a work of fiction not prediction” (Yang berikut ini diilhami oleh kecenderungan dunia dan teknologi yang nyata. Tetapi sungguh ini adalah fiksi bukan prediksi)
Sebagai sebuah novel jangan kita bayangkan bahwa ini adalah sebuah ceritra kehidupan yang runtun tentang seseorang, meskipun diawali dengan cerita yang manusiawi, candaan antara seorang kosmonot Rusia dan seorang astonot Amerika, yang kantong tidurnya dijahit oleh kosmonot Rusia. Panggungnya Setasiun Ruang Angkasa Internasional 234 mil diatas permukaan bumi. Setelah itu panggungnya berpindah-pindah ke Mariana Trench, sebuah stasiun China 10.590 meter dibawah permukaan laut, lalu Kapal Angkatan Laut US Navy P-8 diatas Mariana Trench, lalu National Defence Reserve Fleet di Suisun Bay, California. Tokohnyapun ganti berganti.
Bukan hanya Indonesia yang terpaut dalam novel ini yang dituliskan sebagi collapse setelah perang Timor yang kedua, tapi juga Saudi Arabia yang terkena bom di Dhahran, sehingga harga minya tak terkendali. Tapi China telah menemukan ladang gas di Mariana Trench yang mengamankan kebutuhan energy China. China sendiri dituliskan terjadi khaos yang menyebabkan jatuhnya Partai Komunis China. China kemudia diperintah oleh Aliansi Pengusaha dan Militer yang disebut Directorate.
Dengan kemampuan teknologi China dibantu Rusia mampu mematikan rangkain bom nuklir Amerika dan setelah perang berdarah-berdarah China menghancurkan dan menguasai rangkaian tiga pulau Pacific sampai Hawai dan mendirikan Hawaii Special Administrative Zone.
Amerika melawan dengan Armada Hantu yang intinya adalah United States Navy Reserve. Penduduk O’ahu bersama dengan sisa sisa laskar Amerika kemudian membentuk NSM (North Shore Mujahideen, sic) mengambil pelajaran dari taktik perang dari Mujaheedin di Irak dan Afganistan.
Singkat cerita perang diakhiri dengan status quo, dengan Amerika dan China mampu bangkit kembali dari keterpurukan perang, sementara Rusia semakin terpecah sehingga terbentukny Republik Rakyat Moskow.
Singer dan Cole dengan cerdik mengutip Sun Tzu dalam bukunya The Art of War : “You can fight a war for a long time or you can make your nation strong (Anda dapat berperang untuk waktu yang lama atau anda dapat membuat bangsa anda kuat).
Mengapa novel fiksi dan bukan premakadiksi
Kalau saja Singer dan Cole itu menulis prediksi, dengan kemampuan yang mumpuni dari kedua penulis itu akan timbul kegegeran global. Semua kalangan, militer, politisi, pengusaha, akademisi akan segera mengambil sikap. Benturan pertahanan antar negara akan akan tereskalasi, para politisi akan sigap melakukan lobby dan aliansi, pengusaha akan berusaha mengubah strategi dan mengamankan assetnya, para akademisi mungkin malah akan ketinggalan karena semua sudah beraksi, kecuali laboratorium teknologi cyber yang dituntut jawaban dalam waktu yang singkat. Maka Singer dan Cole menulis dalam bentuk novel fiksi, yang menggugah kesadaran bahwa itu bisa saja terjadi sehingga semua mampu menyesuaikan diri untuk mencegahnya. Mengapa bentuk novel ? Karena novel cerita roman menurut kamus Peter Salim. Jadi baca saja dengan romantis, walaupun ternyata tidak mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan sekelilingnya secara verbal. Novel juga diartikan sebagai narasi fiksionalitas pemikiran yang berakar pada keyakinan dan memperindah suatu opini. Kata John F. Kennedy “jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya, jika politik itu bengkok, prosa akan meluruskannya” Persis seperti humor yang bisa mengeritik tanpa tersinggung, kata Timbul dari Srimulat.
Tak perlu cemas tapi perlu waspada
Ada beberapa catatan dari fiksi Singer ini tentang Indonesia dan sekitarnya. Pertama, Indonesia sdh kolaps karena anarki dan perang Timor lagi. Kedua, di halaman 28 Jenderal China Wang menyebutkan tentang Program penghancuran stabilitas Indonesia. Ketiga, Selat yang memisahkan Malaysia dan “bekas” Indonesia menjadi daerah tak bertuan yang dipenuhi perompak (bayangan Singer dan Cole mungkin seperti Somalia) yang menggunakan perahu kecil, senjata penuh dan drone buatan sendiri. Hasil rompakan digunakan untuk membiayai militant yang tidak jelas.
Tentang kolapsnya Indonesia karena anarki dan hancurnya stabilitas maka kita dapat mengaca diri dan mewaspadai perang neocortex (neocortical warfare). Menurut Sayidiman Suryohadiprodjo (mantan Gubernur Lemhanas) perang neocortex adalah bukan perang seperti konsep Clausewitz, bertempur habis-habisan, melainkan sesuai dengna strategi Sun Tzu yaitu musuh tunduk kepada kehendak kita tanpa menggunakan pertempuran. Kalau neocortex (bagian dari otak) dapat dipengaruhi, maka manusia itu dapat dikendalikan. Contoh sederhana menurut Sayidiman penyuapan dalam segala bentuknya akan membuat yang disuap mengikuti kehendak penyuap.
Sebagian menyebutnya perang asymetris atau perang proxy yaitu menguasai seseorang atau satu group mewakili kepentingan sebuah negara atau aliansi untuk menghancurkan lawan. Sasaran perang proxy ini adalah pertama, membelokan sistem sebuah negara sesuai kepentingan, kedua, melemahkan ideologi dan mengubah pola pikir rakyat, ketiga, menghancurkan food security dan energy security.
Barangkali kecenderungan seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Menarik justeru Indonesia masuk dalam scenario penulisan Singer & Cole karena Indonesia sesungguhnya adalah negara besar dengan segala kekayaan yang melimpah dan bonus demografi. Fiksinya Singer dan Cole mari kita layani dengan kerja keras, awasi kekayaan negara kita, hancurkan korupsi, kolusi dan nepotisme yang sudah mewabah, hapuskan ketidak adilan, hilangkan perbedaan, bersatu dalam mempertahankan dan memakmurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga negeri kita ini diisi oleh kedamaian, persatuan dan kompetisi yang adil dan beradab.

