Oleh: H. Didin Haryono
Pemerhati Pendidikan Pesantren dan Keumatan
Banten bukan sekadar wilayah di ujung barat Pulau Jawa. Tanah ini menyimpan jejak panjang perjuangan ulama, pesantren, dan kaum santri. Dari Tanara, Banten, lahir Syekh Nawawi al-Bantani, ulama besar yang karya-karyanya dipelajari di berbagai penjuru dunia Islam.
Karena itu, peringatan Hari Santri di Banten semestinya bukan sekadar seremoni tahunan. Ada pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan: *santri kita mau dibawa ke mana?* Apakah Hari Santri sungguh menjadi momentum memajukan pendidikan pesantren dan kualitas santri, atau justru berhenti sebagai agenda rutin yang ramai spanduk, panggung, dan pidato, tetapi minim perubahan?
Hari Santri merupakan penghormatan terhadap sejarah perjuangan kaum santri. Namun, penghormatan sejarah akan kehilangan makna jika tidak disertai tanggung jawab membangun masa depan. Para ulama dan santri terdahulu berjuang dengan ilmu, akhlak, pengorbanan, dan keberpihakan kepada umat, bukan demi popularitas atau kepentingan politik sesaat.
Di sinilah otokritik perlu dilakukan. Jangan sampai kita sibuk merayakan Hari Santri, tetapi melupakan persoalan mendasar pesantren: mutu pendidikan, kesejahteraan guru, akses teknologi, kemandirian ekonomi, dan masa depan lulusannya.
Jangan Jadikan Santri Komoditas Politik
Santri memiliki hak untuk terlibat dalam kehidupan politik dan berkontribusi membangun bangsa. Namun, keterlibatan itu harus berlandaskan ilmu, akhlak, dan kepentingan masyarakat, bukan sekadar loyalitas kepada tokoh atau kelompok tertentu.
Yang perlu diwaspadai ialah ketika simbol santri digunakan untuk kepentingan politik, sementara persoalan pendidikan dan kesejahteraan mereka tidak sungguh-sungguh diperjuangkan. Pesantren didatangi saat dukungan dibutuhkan, santri dirangkul ketika ada kepentingan, tetapi kebutuhan mereka terlupakan setelah panggung politik selesai.
Santri tidak boleh hanya menjadi peserta seremoni, pengerah massa, atau pelengkap legitimasi. Mereka harus tumbuh menjadi generasi berilmu, mandiri, kritis, dan berani menyampaikan kebenaran. Menghormati pemimpin tidak berarti kehilangan keberanian untuk mengingatkan ketika kekuasaan menyimpang.
Jangan sampai kita meriah merayakan Hari Santri, tetapi sepi memperjuangkan masa depan santri.
Menghidupkan Ruh Syekh Nawawi al-Bantani
Banten memiliki teladan besar dalam diri Syekh Nawawi al-Bantani. Keteladanan beliau bukan hanya terletak pada kedalaman ilmu agama, tetapi juga pada produktivitas keilmuan, keluasan wawasan, dan karya yang memberi pengaruh luas.
Menghidupkan ruh Syekh Nawawi bukan berarti membawa pesantren kembali ke masa lalu. Kita justru harus mewarisi semangat keilmuannya untuk menjawab tantangan zaman.
Santri harus tetap kuat dalam ilmu agama, penguasaan kitab kuning, dan pembentukan akhlak. Pada saat yang sama, mereka perlu dibekali sains, teknologi digital, bahasa asing, kemampuan riset, literasi keuangan, serta keterampilan kewirausahaan.
Jangan sampai santri unggul dalam ilmu agama, tetapi tidak memiliki kecakapan menghadapi persoalan kehidupan. Sebaliknya, jangan pula mereka mahir menggunakan teknologi, tetapi kehilangan adab dan integritas.
Pesantren perlu mempertemukan kedalaman spiritual dengan kecakapan intelektual, serta kesalehan pribadi dengan tanggung jawab sosial. Santri ideal bukan hanya mampu memahami persoalan umat, melainkan juga sanggup menawarkan solusi.
Pemerintah dan Pesantren Harus Berbenah
Meningkatkan kualitas santri bukan hanya tanggung jawab pengasuh pesantren. Pemerintah, organisasi keagamaan, alumni, dunia usaha, dan masyarakat harus mengambil bagian sesuai perannya.
Pemerintah perlu memperkuat dukungan nyata bagi peningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru, sarana belajar, akses teknologi, beasiswa, pelatihan keterampilan, dan kewirausahaan santri. Dukungan tersebut harus transparan, berkelanjutan, dan menjangkau pesantren yang membutuhkan.
Pengelola pesantren pun perlu terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri. Alumni jangan hanya bangga mengenang almamater, tetapi ikut membuka akses pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha bagi generasi berikutnya.
Di Banten, langkah konkret dapat dimulai dengan pemetaan kebutuhan pesantren, peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi digital, pendampingan usaha santri, serta kemitraan dengan perguruan tinggi dan dunia kerja.
Keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya peserta peringatan, megahnya acara, atau ramainya pemberitaan. Ukurannya harus lebih nyata: apakah kualitas belajar meningkat, apakah santri semakin mandiri, apakah lulusannya memiliki kesempatan hidup yang lebih baik, dan apakah pesantren semakin bermanfaat bagi masyarakat?
Dari Seremoni Menuju Transformasi
Hari Santri seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama. Setiap peringatan perlu diikuti program yang jelas, target terukur, dan tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan biarkan peringatan berakhir ketika panggung dibongkar dan spanduk diturunkan.
Pertanyaan “santri kita mau dibawa ke mana?” bukan hanya ditujukan kepada pemerintah. Pengasuh pesantren, organisasi keagamaan, alumni, keluarga, dan para santri sendiri harus ikut menjawabnya.
Santri harus berani meningkatkan kualitas diri. Pesantren harus terbuka terhadap perubahan yang baik. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang berpihak. Organisasi dan alumni harus membuktikan kepedulian melalui kerja nyata.
Hari Santri bukan sekadar perayaan perjuangan masa lalu, melainkan tanggung jawab membangun generasi masa depan.
Jika kita sungguh menghormati para ulama dan pejuang santri, mari kembalikan ruh keilmuannya, kuatkan akhlaknya, bangun kemandiriannya, dan jauhkan masa depannya dari kepentingan politik sesaat.
Sebab, masa depan bangsa tidak cukup ditopang oleh seremoni yang meriah. Indonesia membutuhkan santri yang berilmu, berakhlak, berdaya, dan mampu memberi manfaat bagi umat serta bangsa.
Saran saya: versi ini sudah cukup padat untuk opini koran. Judulnya provokatif tetapi tetap relevan, kritiknya tegas tanpa menyerang pihak tertentu, dan penutupnya memberikan pesan yang kuat.

