10 Warga Banten Menyusul dari Papua

BANTEN – Tim Kemanusiaan Pemprov Banten mencatat terdapat 42 warga Banten terdampak kerusuhan Wamena hingga Senin (7/10). Dari jumlah tersebut, 30 warga telah dipulangkan, Minggu (6/10). 10 warga dijadwalkan tiba pada pertengahan pekan ini dan 2 sisanya memilih bertahan di Papua.Demikian terungkap dalam acara penyambutan kedatangan warga Banten dari Papua di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Senin (7/10).
Ketua Tim Kemanusiaan Pemprov Banten E Kusmayadi mengatakan, pihaknya masih terus melakukan penyisiran keberadaan warga Banten di Papua yang terdampak kerusuhan. Hingga kemarin, tim berhasil mengamankan 42 jiwa.
“Total keseluruhan data yang sudah kita tetapkan 42 jiwa dari Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Rata-rata mereka berprofesi pedagang remote dan bubur ayam,” ujarnya.
Inspektur Provinsi Banten itu menuturkan, dari 42 warga yang terdata, 30 diantaranya sudah dipulangkan ke Banten. Rinciannya, dua orang telah pulang lebih dulu pada pekan kemarin. Lalu 28 orang dipulangkan dalam dua gelombang pada Minggu (6/10).“30 orang yang dipulangkan terdiri atas 11 dari Kota Serang dan 19 Kabupaten Serang. Mereka sudah diserahterimakan ke pemerintah kabupaten/kota masing-masing,” katanya.
Selanjutnya, kata dia, 10 jiwa dari Kabupaten Lebak dan Pandeglang dijadwalkan akan menyusul. Mereka direncanakan pulang ke Banten pada pertengahan bulan ini. Sementara 2 orang sisanya memilih menetap di Wamena. Mereka enggan pulang karena alasan keluarga dan pekerjaan. Keduanya berasal dari Kabupaten Lebak.
Mereka yang memilih bertahan, Pemprov Banten tetap memberikan bantuan berupa uang tunai senilai Rp5 juta untuk masing-masing warga.“Yang masih belum dikirim (dipulangkan-red) 10 jiwa, menunggu tambahan pendataan. Masih ada tim kami di sana berjumlah tiga orang untuk mengurus segala sesuatunya. Minggu ini dipulangkan, Rabu atau Kamis (9-10/10),” ungkapnya.
Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, kepulangan mereka patut untuk disyukuri dan peristiwa yang telah terjadi agar tidak perlu diingat kembali. Tenangkan pikiran dan jangan dibawa-bawa dan diingat lagi peristiwa itu. Mulailah kehidupan yang baru,” ujarnya.
Mantan Walikota Tangerang itu mengaku, merasa lega dengan kepulangan para warganya dalam kondisi sehat dan tidak kurang suatu apapun. Ia mengibaratkan bahwa berada di kampung sendiri meskipun hujan batu lebih terasa lebih nyaman dibandingkan hujan emas namun berada di kampung orang.
Wahidin menegaskan, untuk sementara ini warga terdampak konflik Wamena yang berhasil pulang dan tidak memiliki tempat tinggal akan disediakan rumah singgah milik Dinas Sosial baik provinsi maupun kabupaten/kota. Selama di rumah singgah.
“Yang penting mereka senang, tenang, dan tidak trauma lagi. Kalau mau tinggal di sini silahkan, balik lagi ke sana (Papua-red) silahkan, asalkan tidak dalam kondisi ketakutan,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Walikota Serang Subadri Usuludin memastikan, akan menyediakan rumah singgah bagi mereka yang tak memiliki rumah di Banten. Untuk sementara ini pula pihaknya akan menyediakan kebutuhan harian mereka selama di rumah singgah.
“Setelah ada serah terima kami Pemkot Serang sangat bertanggung jawab terkait tentang hidup mereka. Kami sudah memersiapkan itu, karena menurut kami itu kewajiban pemerintah juga supaya mereka juga tidak terlunta-lunta,” ujarnya.
Ke depan, Pemkot Serang tak menutup kemungkinan untuk memberikan bantuan untuk mengangkat ekonomi mereka. Akan tetapi, pihaknya masih akan melihat perkembangannya. Sebab, tak menutup kemungkinan mereka akan kembali lagi ke Papua saat situasi sudah kondusif.
“Lihat situasi saja dulu, yang kita lihat yang ke sana itu pedagang, itu pun pedagang remote dan bubur ayam. Kalau remote sama bubur ayam saja, saya rasa tidak perlu mesti ke Papua. Insya Allah (untuk bantuan) kita sesuaikan,” pungkasnya.
Sementara itu, empat warga Kampung Pasirjati, Kelurahan Cijoro Lebak, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak masih terjebak di Wamena, Papua. Mereka minta bantuan untuk dipulangkan ke kampung halamannya. Keempat orang tersebut merupakan satu keluarga atas nama Nita Puspita Sari, Karla Bela Pita, Apip Muhamad Firdaus, dan Fani Indriani. “Empat orang warga minta dipulangkan karena panik. Ada isu akan ada aksi demo besar-besaran akhir bulan Oktober sampai Desember,” kata Ade Supardi, kerabat warga yang meminta bantuan kepada Bupati Lebak agar difasilitasi pemulangannya di Pendopo Bupati, Senin (7/10).
Sementara itu Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya menuturkan, Pemkab akan mencari solusi terbaik. “langkah awal akan berkomunikasi dulu dengan Pemprov Banten. Dan jika misal tidak dapat dilakukan penjemputan, maka akan mengalokasikan anggaran dari biaya tak terduga,” katanya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *