Jakarta (Haluan Banten ) – Survei Katadata menunjukkan hampir separoh perusahaan rintisan (startup) mampu bertahan ditengah krisis ekonomi akibat wabah COVID-19 yang berlangsung sejak Maret 2020.

“Sisanya, 10% startup mampu bertahan hingga akhir Juni 2020 dan 20% lainnya bisa bertahan dalam tempo 3-6 bulan ke depan,” kata Direktur Riset Katadata Insight Center, Mulya Amri dalam webinar Pandemi Covid: Dampak Terhadap Pelaku Ekonomi Digital, Kamis (9/7) kerja sama Katadata dengan Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Menurut Mulya, ada sejumlah cara yang dilakukan oleh startup digital agar bisa bertahan di tengah pandemi. Sebagian besar pengelola tersebut (52%) melakukan pengurangan biaya operasional. Selain itu juga melakukan pengurangan biaya promosi (41%) dan mengurangi biaya produksi (32%). Pengurangan biaya operasional yang banyak dilakukan adalah pemotongan gaji karyawan (35%) dan pemangkasan jumlah karyawan (24,5%).

Survei Katadata Insight Center terhadap 139 eksekutif perusahaan startup digital pada Mei-Juni 2020 menunjukkan bahwa startup cenderung tidak melakukan perubahan strategi pada masa pandemi.

“Tapi dari perubahan yang dilakukan, kebanyakan terkait jumlah dan jenis produk/layanan. Perubahan jenis produk/layanan didorong perubahan preferensi konsumen yang cenderung mencari barang kebutuhan pokok dan yang terkait kesehatan,” tutur Mulya.

Survei terhadap jajaran eksekutif startup dari berbagai sektor ini juga menunjukkan jika sektor pariwisata, sektor ekosistem pendukung digitalisasi dan maritim paling terpukul.

Sedangkan sektor sistem pembayaran, logistik, pertanian, kesehatan, teknologi informasi dan sektor pendidikan, meski terkena dampak, namun kondisi perusahaan masih cukup baik.

Analisis Katadata Insight Center juga menemukan jika perusahaan yang berada pada tahapan awal (seed & cockroach) cenderung paling terpukul.

Jumlah startup dengan nilai transaksi di atas Rp 1 miliar – 100 miliar per bulan, banyak yang mengalami penurunan omzet menjadi di bawah Rp 1 miliar, yakni dari 30,2% menjadi 14,7%. Namun, jumlah startup dengan transaksi di atas Rp 100 miliar yang semula sebanyak 10,9% startup mengalami kenaikan 2,3% menjadi 13,2%.

Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan riset atas kondisi startup semasa pandemi ini dilakukan untuk memastikan Kominfo mendapat gambaran yang lebih akurat atas situasi ekonomi digital.

“Kami ingin program dan kerja kita tepat sasaran, kami ingin ekonomi digital ini terus tumbuh dan berkembang dan belajar dari apa yang menjadi potensi dan tantangan dari kondisi pandemi COVID-19,” jelas Semuel.

Survei Katadata Insight Center dan Kementerian Komunikasi ini dilakukan pada 139 eksekutif perusahaan seperti pendiri startup, CEO serta jajaran direksi perusahaan. Responden diwawancarai secara online dan melalui saluran telepon pada 8 Mei – 5 Juni 2020. ( ATR/RED )