CILEGON, (Haluanbanten.co.id)  – Kini sudah bukan zamannya lagi asal ngomong, tapi bohong dan berotak kosong. Zamannya telah berubah menjadi pengguna internet yang bijak, cerdas, dan bertanggung jawab. Salah satu cirinya ialah pandai menyaring dan memilah informasi agar tak terjebak mengonsumsi konten negatif.

Untuk mengedukasi masyarakat agar bijak dalam menggunakan internet dan menciptakan konten positif, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Komunitas Yorfest Cilegon akan menggelar diskusi literasi digital untuk komunitas digital di Yorday Avenue, Ciwaduk, Kota Cilegon, Banten, Sabtu (5/8) sore, mulai pukul 16.00 WIB.

”Diskusi literasi digital masuk desa lintas komunitas ini bisa diikuti gratis. Caranya, silakan mendaftar secara online ke link registrasi di https://s.id/pendaftarancilegon0507. Peserta akan mendapat e-sertifikat resmi dari Kemenkominfo dan e-money senilai Rp 1 juta untuk 10 peserta yang beruntung,” tulis Kemenkominfo dalam rilisnya kepada awak media, Jumat (4/8).

Diskusi luring (offline) bertajuk ”Menjadi Netizen yang Bijak dalam Bermedia Sosial” itu, akan menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah influencer Delvino Mahsavareza, musisi Ana Livian, influencer Azmy Zen, dan Sintia Dewi selaku moderator.

Terkait tema diskusi, Kemenkominfo menjelaskan, menjadi warganet (netizen) yang bijak berarti ia harus bisa menyaring berbagai informasi yang diterima, sebelum dibagikan kepada orang lain. Hal itu berlaku untuk konten apa pun dan yang berasal dari platform media digital mana pun.

Penyaringan informasi, menurut Kemenkominfo, tidak hanya berlaku untuk konten negatif saja. Terhadap konten positif pun penyaringan tetap harus dilakukan. Karena, konten yang kita pikir positif pun terkadang harus dicek ulang. ”Kita harus cek dulu, apakah sumbernya jelas, melalui Cek Fakta, Mafindo, dan lainnya,” tegas Kemenkominfo dalam rilis.

Selain itu, lanjut Kemenkominfo, menjadi warganet yang bijak dalam bermedia sosial juga harus menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi, tidak menyebarkan rahasia pribadi ke ranah publik, bijak dalam mengatur waktu online, menghormati hak cipta orang lain, dan berhati-hati dengan tidak menyebarkan data pribadi.

Kemenkominfo menambahkan, ketika mengunjungi platform media sosial seperti Instagram, Facebook atau Twitter maupun layanan video berbagi seperti YouTube, kita dengan mudah menjumpai konten-konten sensitif seperti konten dengan tema politik, suku, agama, dan ras.

”Merujuk pada kolom komentar tentu akan kita jumpai banyak sekali komentar-komentar yang tidak mengindahkan lagi norma-norma kesopanan yang ada di masyarakat Indonesia. Manfaatkan perangkat dan media sosial untuk hal produktif, bukan yang kontraproduktif,” imbuh Kemenkominfo.

Kemenkominfo berpesan, hoaks (berita bohong), cyber bullying, dan online radicalism merupakan beberapa contoh konten negatif yang rentan ditemui di internet. ”Untuk mencegah diri terpapar konten negatif, warganet harus mempunyai komitmen kuat dan pintar dalam menyaring informasi,” pungkasnya.

Sebagai informasi, diskusi literasi digital pada lingkup komunitas merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia #MakinCakapDigital (IMCD). IMCD diinisiasi Kemenkominfo untuk memberikan literasi digital kepada 50 juta orang masyarakat Indonesia hingga 2024.

Tahun ini, program #literasidigitalkominfo dilaksanakan sejak 27 Januari 2023. Program Kemenkominfo yang berkolaborasi dengan Siber Kreasi dan 18 mitra jejaring ini membidik segmen pendidikan dan segmen kelompok masyarakat sebagai peserta.

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan dan info literasi digital dapat diakses melalui media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Fan Page dan Kanal YouTube Literasi Digital Kominfo serta website info.literasidigital.id. (*)