PANDEGLANG, (Haluanbanten.co.id) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, kini memasuki fase baru. Setelah seluruh sasaran penerima manfaat berhasil dijangkau, perhatian penyelenggara tidak lagi tertuju pada perluasan distribusi, melainkan pada peningkatan kualitas layanan agar program berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Kepala SPPG Pandeglang, Majasari, Sukaratu 2 yang juga menjabat sebagai Koordinator Kecamatan (Korcam) Majasari sekaligus Wakil Koordinator Wilayah (Korwil) Pandeglang, Fitra Riyanto, mengatakan bahwa perubahan fokus tersebut menjadi konsekuensi setelah cakupan penerima manfaat dinilai telah terpenuhi.
“Kalau diibaratkan, pesta sudah selesai, sekarang saatnya membereskan semuanya agar ke depan lebih baik,” ujar Fitra.
Menurutnya, sebanyak 11 dapur MBG saat ini telah beroperasi di Kecamatan Majasari dan melayani seluruh penerima manfaat, baik di sekolah negeri maupun pondok pesantren.
“Alhamdulillah seluruh penerima manfaat di Majasari sudah terlayani, termasuk pondok pesantren,” katanya.
Meski demikian, proses pendataan belum dihentikan. Tim masih melakukan penelusuran untuk memastikan tidak ada satuan pendidikan yang belum masuk dalam cakupan program, terutama sekolah swasta.
“Kami terus melakukan tracking. Jangan sampai masih ada sekolah yang belum terdata atau belum ter-cover,” jelasnya.
SPPG yang dipimpinnya mulai beroperasi sejak diresmikan pada 28 Oktober 2025. Selama pelaksanaan, menurut Fitra, distribusi makanan di wilayah Majasari berlangsung relatif lancar tanpa kendala yang berarti.
Selain memastikan seluruh sasaran terlayani, penyelenggara juga mencatat adanya beberapa sekolah yang tidak bergabung dalam program MBG. Namun keputusan tersebut bukan karena menolak kebijakan pemerintah, melainkan karena telah memiliki program penyediaan makan bagi siswa secara mandiri.
“Ada beberapa SDIT dan SMPIT yang sudah mempunyai program makan sekolah sendiri, sehingga tidak mengikuti MBG,” ungkapnya.
Memasuki tahap penguatan kualitas, Fitra menyebut terdapat tiga aspek utama yang kini menjadi prioritas pembenahan. Pertama adalah peningkatan standar operasional dapur, termasuk pemenuhan aspek Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) agar seluruh fasilitas memenuhi ketentuan yang berlaku.
Aspek kedua adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ia mengakui bahwa pada awal pelaksanaan program belum tersedia pelatihan yang memadai bagi chef maupun tenaga pengolah makanan. Padahal, kualitas hidangan sangat bergantung pada kompetensi para petugas dapur.
“Dulu belum ada pelatihan khusus untuk chef. Sekarang peran mereka menjadi sangat penting karena menentukan kualitas makanan yang disajikan,” ujarnya.
Prioritas berikutnya ialah penyusunan menu yang lebih beragam. Menurut Fitra, variasi menu kini harus disusun berdasarkan hasil kajian sekaligus mempertimbangkan selera anak-anak agar makanan bergizi yang disediakan juga diminati oleh para penerima manfaat.
“Menu harus semakin variatif dan disesuaikan dengan selera anak-anak, sehingga makanan tidak hanya bergizi tetapi juga habis dikonsumsi,” katanya.
Fitra menilai, ukuran keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis ke depan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh luasnya cakupan penerima manfaat. Lebih dari itu, kualitas pelayanan menjadi indikator utama yang harus terus ditingkatkan melalui penguatan standar dapur, peningkatan kompetensi SDM, serta penyajian menu yang sehat, variatif, dan sesuai kebutuhan penerima manfaat. (Jandan)


