TANGERANG SELATAN , (haluanbanten.co.id) – Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat pembangunan infrastruktur pada 2026. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Drs. H. Benyamin Davnie, pembangunan diarahkan tidak hanya untuk memperbaiki kondisi fisik kota, tetapi juga menjawab persoalan yang langsung dirasakan masyarakat, mulai dari jalan, drainase, banjir, transportasi hingga pengelolaan sampah.

Benyamin menegaskan bahwa infrastruktur masih menjadi salah satu fokus utama pembangunan Tangsel. Bahkan, arah kebijakan tersebut kembali diperkuat dalam penyusunan RKPD 2027.

“Tahun 2027 kita masih akan tetap fokus kepada infrastruktur,” kata Benyamin saat membuka Musrenbang RKPD 2027 pada bulan lalu .

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara lebih menyeluruh. Persoalan jalan tidak dapat dipisahkan dari drainase, banjir, jembatan, transportasi dan pengelolaan sampah.

Jalan dan Drainase Jadi Perhatian

Sepanjang 2026, Pemkot Tangsel melakukan berbagai langkah untuk menjaga kualitas infrastruktur dasar. Menjelang arus mudik dan libur Lebaran, misalnya, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi melakukan penanganan cepat jalan rusak melalui program “sapu lubang”, khususnya pada ruas jalan arteri dan kolektor sekunder.

Pada sektor drainase, pembersihan sedimentasi dan normalisasi dilakukan di sejumlah kawasan yang rawan genangan, antara lain Rawabuntu, Melati Mas, Ciater Raya, Ceger Raya dan Merpati Raya. Pemerintah juga melakukan pengecekan fasilitas pompa untuk memastikan sistem pengendalian banjir dapat bekerja optimal.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur Tangsel semakin diarahkan pada pendekatan pemeliharaan dan pencegahan, bukan semata mata pembangunan baru.

Pengendalian Banjir Diperkuat

Persoalan banjir menjadi salah satu pekerjaan penting Pemkot Tangsel. Pada akhir Juli 2026, pemerintah melakukan pengerukan Sungai Ciputat di kawasan Pondok Hijau untuk mengangkat sedimentasi yang menghambat aliran air.

Pengerukan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai sehingga potensi luapan air yang dapat menyebabkan genangan di kawasan permukiman dapat ditekan.

Pendekatan pengendalian banjir juga dilakukan melalui pembenahan drainase dan penataan kawasan. Di Melati Mas, misalnya, Pemkot menyiapkan normalisasi saluran sekaligus mengevaluasi persoalan aliran air yang terhambat sedimentasi maupun bangunan yang menutup saluran.

Benyamin melihat persoalan banjir, sampah dan infrastruktur sebagai persoalan perkotaan yang harus ditangani secara terintegrasi.

Artinya, membangun jalan tanpa memastikan drainase berfungsi tidak akan menyelesaikan persoalan. Begitu pula normalisasi sungai perlu didukung sistem drainase dan pengelolaan kawasan yang baik.

Penataan Kampung Kota Jadi Wajah Baru Tangsel

Pembangunan infrastruktur 2026 juga menyentuh kawasan permukiman.

Salah satunya penataan Kampung Kota Keranggan di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Pemkot Tangsel melakukan pembangunan infrastruktur dasar berupa jalan, drainase dan penerangan jalan umum (PJU) pada kawasan seluas sekitar 23 hektare tersebut.

Penataan kawasan ditargetkan rampung pada Desember 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus menghadirkan kawasan permukiman yang lebih tertata.

Bagi pemerintah daerah, pembangunan seperti ini memiliki dampak langsung karena menyentuh kebutuhan sehari hari warga.
Akses jalan yang lebih baik, saluran air yang berfungsi, lingkungan yang lebih tertata dan penerangan yang memadai.

Perbaikan Infrastruktur Perumahan

Perhatian terhadap infrastruktur juga menyasar kawasan perumahan lama yang telah diserahterimakan menjadi aset Pemkot Tangsel.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar pembangunan infrastruktur baru, tetapi juga mulai memperkuat pemeliharaan fasilitas umum yang sudah ada.

Infrastruktur Harus Berdampak Langsung

Bagi Benyamin Davnie, tantangan pembangunan Tangsel ke depan semakin kompleks seiring pertumbuhan kawasan perkotaan dan tingginya mobilitas masyarakat.

Karena itu, infrastruktur harus dipandang sebagai satu sistem.

Jalan harus terkoneksi dengan transportasi. Drainase harus mampu mengalirkan air. Sungai harus dijaga kapasitasnya. Pengelolaan sampah harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Sementara kawasan permukiman harus memiliki fasilitas dasar yang layak.

Dalam arah pembangunan 2027, Benyamin bahkan menegaskan bahwa pembahasan infrastruktur akan diperluas mulai dari pengelolaan sampah, transportasi, jalan, jembatan hingga drainase.

Dengan demikian, agenda infrastruktur Tangsel 2026 tidak berhenti pada pembangunan fisik. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap proyek mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan membuat kota lebih siap menghadapi pertumbuhan penduduk, mobilitas tinggi serta persoalan lingkungan perkotaan.

Infrastruktur yang kuat pada akhirnya bukan hanya tentang jalan yang mulus atau bangunan yang berdiri, tetapi tentang bagaimana seluruh sistem kota bekerja lebih baik untuk masyarakat.(Adv, Kominfo)