Kota Tangerang, (haluanbanten.co.id) – Hasil kegiatan Kuliah Kerja Kemasyarakatan (KKK) Tematik tidak berhenti pada pelaksanaan di tingkat kelurahan. Berbagai inovasi yang lahir dari keterlibatan mahasiswa bersama masyarakat kini dievaluasi untuk melihat peluang keberlanjutannya dalam mendukung program prioritas dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Kota Tangerang.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi SDGs Kota Tangerang terkait Hasil KKK Tematik Tahun 2026 yang digelar Bappeda Kota Tangerang, Kamis (24/9/2026). Kegiatan diikuti jajaran Bappeda, perwakilan OPD, serta narasumber dari Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang.
Kepala Bappeda Kota Tangerang, Hj. Yeti Rohaeti, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi perlu diarahkan pada hasil yang dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“Hasil KKK Tematik ini menjadi bagian penting dalam melihat kebutuhan dan potensi masyarakat secara langsung. Karena itu, inovasi dan data yang dihasilkan perlu kita dorong agar dapat ditindaklanjuti dan mendukung program prioritas pembangunan Kota Tangerang,” ujar Yeti.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bappeda Kota Tangerang, Hj. Euis Nurlaila, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan UNIS diharapkan dapat meningkatkan kontribusi akademisi baik mahasiswa dan dosen dalam mendukung program prioritas daerah yang selaras dengan SDGs.
“Kami berharap kolaborasi UNIS dengan Pemerintah Kota Tangerang yang sudah terbangun melalui kegiatan KKK Tematik ini semakin berkembang. Mahasiswa tidak hanya hadir melaksanakan kegiatan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi dan membantu program-program pelayanan masyarakat yang mendukung SDGs,” ungkap Euis.
Berdasarkan paparan Kepala Pusat PkM, LRPM Universitas Islam Syekh-Yusuf Tangerang, Rizal Fahmi, pelaksanaan KKK Tematik selama Juli–Agustus 2026 mencakup 10 kelurahan di lima kecamatan dengan tingkat keterlaksanaan mencapai 94 persen, atau 143 dari 152 kegiatan yang direncanakan. Intervensi terbesar berada pada tiga sektor, yakni ekonomi, kesehatan, dan pendidikan, dengan kontribusi mencapai 76 persen.
Rizal menjelaskan, berbagai program yang dijalankan mahasiswa menghasilkan intervensi yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari pendataan lebih dari 115 UMKM serta pendampingan NIB dan sertifikasi halal, inovasi Kartu Jumantik di Belendung, Puding Daun Kelor di Jurumudi, pembentukan Bank Sampah RW, edukasi anti-bullying, hingga pemetaan “1 Sarjana 1 Keluarga” di Tanah Tinggi.
“KKK Terintegrasi UNIS 2026 diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang berbasis kebutuhan masyarakat. Dari pelaksanaan di lapangan, kami melihat sejumlah prototipe program yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan direplikasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” kata Rizal.
Meski menunjukkan capaian positif, evaluasi juga menemukan sejumlah tantangan, mulai dari kelengkapan KTP dan NPWP yang masih belum ada dan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap kewajiban pajak dalam proses digitalisasi, hingga waktu pelaksanaan lapangan yang relatif singkat.
Sebagai tindak lanjut, Bappeda mendorong agar data baseline, temuan, serta usulan program hasil KKK dibawa ke forum Musrenbang Kecamatan untuk selanjutnya diformulasikan dalam RKPD Kota Tangerang. OPD teknis juga diharapkan dapat mengadopsi aset maupun prototipe program ke dalam Renja 2027, sehingga inovasi yang telah tumbuh di masyarakat dapat berlanjut dan memberikan dampak yang lebih luas.
Dengan demikian, evaluasi KKK Tematik tidak hanya menjadi ruang untuk melihat capaian kegiatan mahasiswa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memastikan praktik baik, data, dan inovasi yang lahir di tengah masyarakat dapat terhubung dengan proses perencanaan pembangunan Kota Tangerang. (Adv)


