Oleh : Nadia Hana Putri Elyadi Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Saya tidak pernah merasa hidup saya buruk sampai media sosial memberi tahu bahwa hidup orang lain terlihat lebih baik.

Suatu malam, saya menutup Instagram lebih cepat dari biasanya. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, saya melihat teman sebaya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, seseorang yang merayakan pencapaian akademiknya, dan orang lain yang tampak menikmati hidup tanpa beban. Sebelum membuka aplikasi itu, hari saya berjalan biasa saja. Tidak ada masalah berarti. Namun setelahnya, muncul perasaan yang sulit dijelaskan, seolah saya sedang tertinggal dalam perlombaan yang bahkan tidak saya sadari sedang berlangsung.

Pengalaman tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi banyak anak muda hari ini, perasaan serupa bukanlah hal yang asing. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Generasi Z hidup dalam arus informasi yang bergerak tanpa henti. Berbagai pencapaian, kesuksesan, dan momen bahagia hadir setiap saat di layar ponsel. Ironisnya, di tengah begitu banyak kemudahan dan peluang yang tersedia, semakin banyak pula individu yang merasa hidupnya belum cukup.

Perasaan itu sering kali tidak muncul karena seseorang benar-benar kekurangan. Sebaliknya, ia lahir dari kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih ideal. Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai social comparison, yaitu kecenderungan seseorang menilai dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain (2023). Di era media sosial, proses perbandingan tersebut menjadi semakin intens karena individu terus terpapar pada kehidupan dan pencapaian orang lain. Jika dahulu perbandingan tersebut terbatas pada lingkungan sekitar, kini seseorang dapat membandingkan dirinya dengan ratusan bahkan ribuan orang hanya dalam beberapa menit melalui media sosial.

Fenomena tersebut semakin relevan di era digital. Menurut Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 yang dirilis APJII, jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai 221 juta jiwa atau sekitar 79,5 persen dari total populasi (2024). Generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak terkoneksi dengan internet, menunjukkan betapa dekatnya kehidupan generasi ini dengan ruang digital. Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya berjalan baik dapat terasa kurang memuaskan hanya karena tidak terlihat semenarik kehidupan yang muncul di layar.

Masalahnya, apa yang kita lihat di media sosial sering kali bukan kehidupan yang utuh. Yang tampil hanyalah potongan-potongan terbaik seperti foto wisuda, pencapaian karier, perjalanan ke luar negeri, atau momen bahagia yang dipilih untuk dipublikasikan. Kita melihat hasil akhirnya tanpa mengetahui proses, kegagalan, dan tekanan yang mungkin terjadi di baliknya. Tanpa disadari, ruang digital berubah menjadi etalase besar tempat setiap orang memamerkan versi terbaik dirinya.

Saya sendiri pernah terjebak dalam situasi tersebut. Ketika melihat orang lain tampak produktif setiap hari, saya merasa bersalah saat beristirahat. Ketika melihat teman sebaya mencapai berbagai prestasi, saya mulai mempertanyakan pencapaian diri sendiri. Lambat laun, saya menyadari bahwa standar keberhasilan yang saya kejar bukan lagi standar yang saya tentukan sendiri, melainkan standar yang dibentuk oleh apa yang saya lihat setiap hari.

Pada titik tertentu, media sosial terasa seperti treadmill yang terus bergerak. Semakin cepat seseorang berlari, semakin besar dorongan untuk berlari lebih cepat lagi. Selalu ada individu yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih menarik, atau lebih bahagia. Karena itu, rasa puas menjadi semakin sulit dicapai. Ketika satu tujuan berhasil diraih, muncul tujuan baru yang terasa harus segera dikejar.

Di saat yang sama, Generasi Z juga hidup di tengah kuatnya budaya produktivitas atau hustle culture. Kesibukan sering dianggap sebagai simbol keberhasilan, sementara istirahat kerap dipandang sebagai bentuk kemalasan. Berbagai pesan seperti “usia muda harus sukses”, “jangan kalah dengan teman sebaya”, atau “manfaatkan waktumu sebaik mungkin” beredar luas dan terus diulang. Meskipun terdengar inspiratif, pesan-pesan tersebut dapat berubah menjadi tekanan ketika diterima tanpa ruang refleksi.

Akibatnya, tidak sedikit anak muda yang hidup seperti pelari maraton yang dipaksa berlari sprint sejak garis awal. Mereka takut tertinggal, takut dianggap gagal, dan takut tidak memenuhi ekspektasi yang terus meningkat. Banyak yang bekerja keras bukan semata-mata karena ingin berkembang, tetapi karena khawatir dianggap tidak cukup berhasil.

Tekanan tersebut bukan sekadar asumsi. Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Generasi Z termasuk kelompok yang rentan mengalami stres dan kecemasan akibat tekanan akademik, tuntutan sosial, serta kekhawatiran terhadap masa depan. Penelitian Hamid dan Taslim (2024) menemukan adanya perbedaan tingkat stres yang signifikan antara Generasi X dan Generasi Z, dengan Generasi Z menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap tekanan psikologis. Dalam kondisi seperti itu, pencapaian tidak lagi menjadi sumber kebahagiaan, melainkan sekadar target berikutnya yang harus ditaklukkan.

Fenomena ini semakin diperkuat oleh hadirnya validasi digital. Jumlah likes, komentar, views, dan followers perlahan berubah menjadi ukuran baru dalam menilai diri sendiri. Pengakuan yang dahulu diperoleh melalui interaksi nyata kini sering dicari melalui angka-angka di layar. Ketika unggahan mendapat respons tinggi, seseorang merasa dihargai. Sebaliknya, ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, muncul kekecewaan yang terkadang berujung pada keraguan terhadap diri sendiri.

Saya pernah melihat seseorang menghapus unggahannya hanya karena jumlah likes yang dianggap terlalu sedikit. Sekilas hal itu terlihat sepele. Namun di balik tindakan tersebut tersimpan realitas yang lebih besar: sebagian orang mulai mengaitkan harga dirinya dengan perhatian yang diterimanya di dunia digital. Kehidupan perlahan berubah menjadi panggung pertunjukan, tempat citra sering kali lebih diprioritaskan daripada kondisi yang sebenarnya dirasakan.

Meski demikian, menyalahkan media sosial sepenuhnya bukanlah jawaban. Platform digital telah membantu banyak orang memperoleh informasi, membangun relasi, menemukan komunitas, bahkan membuka peluang karier. Saya sendiri pernah memperoleh inspirasi dari kisah-kisah orang lain yang berhasil bangkit dari kegagalan. Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia berinteraksi dengannya.

Media sosial ibarat api. Dalam kadar yang tepat, ia mampu memberi manfaat dan kehangatan. Namun ketika digunakan tanpa batas dan tanpa kesadaran, ia dapat membakar ketenangan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, tantangan terbesar generasi sekarang bukanlah menjauh dari teknologi, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengannya.

Menyadari bahwa setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda merupakan langkah penting untuk keluar dari lingkaran perbandingan sosial. Tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan standar pribadi. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk bertumbuh. Perbedaan tersebut bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang unik bagi setiap individu.

Kini saya mulai memahami bahwa tidak semua hal dalam hidup harus dibandingkan. Ada proses yang memang membutuhkan waktu lebih panjang, ada mimpi yang datang melalui jalan yang berbeda, dan ada kebahagiaan yang tidak selalu bisa ditampilkan dalam unggahan media sosial. Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai garis akhir, melainkan tentang bagaimana seseorang dapat tetap menghargai dirinya sendiri selama perjalanan berlangsung.

Pada akhirnya, belajar merasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi atau kehilangan ambisi. Sebaliknya, rasa cukup membantu seseorang bertumbuh tanpa harus terus-menerus merasa kalah dari orang lain. Di tengah dunia yang terus berteriak bahwa kita harus lebih sukses, lebih produktif, dan lebih sempurna, mungkin keberanian terbesar yang bisa dimiliki Generasi Z adalah menerima dirinya sendiri.

Sebab terkadang, yang membuat seseorang merasa kurang bukan karena ia tidak memiliki apa-apa, melainkan karena ia terlalu sering menghitung apa yang dimiliki orang lain.